Kita semua tahu bahwa shalat adalah ibadah yang wajib. Pentingnya shalat membuat ibadah ini harus dilakukan bagaimanapun keadaannya. Bahkan orang sakit selama masih mampu shalat, harus tetap shalat dengan cara yang telah ditentukan. Sebagaimana firman Allah:
إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً
“…Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Qs. An-Nisa’: 103)
Namun kenyataannya masih banyak di antara kita yang sering menunda-nunda shalat walau adzan sudah berkumandang. Shalat tepat waktu memang bukan hal yang mudah di tengah kesibukan kegiatan sehari-hari. Padahal shalat tepat waktu memiliki keutamaan yang sangat besar dan merupakan amalan yang paling afdal, seperti dalam hadis : Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, amal perbuatan apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.”(HR. Bukhari). Dari hadist tersebut kita dapat menyimpulkan betapa pentingnya shalat tepat waktu, dan tentu saja hal tersebut sangat disukai Allah SWT.
Adapun keutamaan shalat tepat waktu adalah : Di antaranya :
1. Dicintai Allah SWT
2. Badan selalu sehat
3. Dijaga oleh malaikat
4. Diturunkan berkah untuk rumahnya
5. Wajahnya akan menunjukkan tanda-tanda orang yang shaleh
6. Akan berhati lembut
7. Melalui jembatan Shiratal Mustaqim seperti kilat
8. Diselamatkan dari siksa api neraka
9. Ditempatkan ke dalam golongan orang-orang tidak takut dan bersedih.
Keutamaan shalat tepat waktu tersebut disampaikan oleh Khalifah Usman bin Affan. Selain memiliki keutamaan tersebut, shalat tepat waktu akan memberikan manfaat lain, yaitu:
1. Disiplin Banyak yang mengatakan orang Indonesia terkenal suka tidak tepat waktu. Sebagai generasi muda, kita harus membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar. Dengan membiasakan diri untuk selalu shalat tepat waktu, maka akan menumbuhkan sikap disiplin dalam diri kita. Sikap disiplin ini lama-lama akan menyebar juga pada kegiatan lain, tidak hanya shalat. Bagaimana kita bisa disiplin dalam kegiatan berat, bila hal seringan shalat saja kita malas-malasan?
2. Memprioritaskan Allah Dengan suka menunda-nunda shalat karena alasan duniawi, berarti kita menomorduakan Allah SWT. Na’udzubillah... Dengan selalu melakukan shalat tepat waktu, maka Allah akan menjadi prioritas utama dalam kehidupan kita. Bagaimana doa kita didengar oleh Allah SWT bila kita saja tidak memprioritaskan-Nya?
3. Pandai mengatur Memang banyak halangan untuk melaksanakan shalat secara tepat waktu, misalnya masih di jalan atau dikalahkan oleh rasa lapar. Bila sudah tahu penyebabnya, kita harus dapat memanajemen waktu dan kegiatan. Misalnya apakah memundurkan kepulangan kita, shalat di tengah perjalanan, atau memajukan kepulangan sehingga dapat shalat tepat waktu.
4. Menggugurkan dosa Siapa manusia yang tidak berdosa? Setiap manusia pasti memiliki dosa, namun dosa-dosa tersebut dapat berguguran dengan kita selalu shalat tepat waktu. Seperti sabda Rasulullah : “Sesungguhnya seorang hamba yang muslim, jika menunaikan shalat dengan ikhlas karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini dari pohonnya” (HR. Ahmad).
Penentuan Waktu Shalat
Sebelum manusia menemukan hisab/perhitungan falak/astronomi, pada zaman Rasulullah waktu shalat ditentukan berdasarkan observasi terhadap gejala alam dengan melihat langsung matahari. Lalu berkembang dengan dibuatnya Jam Surya atau Jam Matahari serta Jam Istiwa atau sering disebut Tongkat Istiwa dengan kaidah bayangan matahari.
Jam surya & tongkat istiwa
Waktu Subuh. Waktunya diawali saat Fajar Shiddiq sampai matahari terbit (syuruk). Fajar Shiddiq ialah terlihatnya cahaya putih yang melintang mengikut garis lintang ufuk di sebelah Timur akibat pantulan cahaya matahari oleh atmosfer. Menjelang pagi hari, fajar ditandai dengan adanya cahaya samar yang menjulang tinggi (vertikal) di horizon Timur yang disebut Fajar Kidzib atau Fajar Semu yang terjadi akibat pantulan cahaya matahari oleh debu partikel antar planet yang terletak antara Bumi dan Matahari. Setelah cahaya ini muncul beberapa menit kemudian cahaya ini hilang dan langit gelap kembali. Saat berikutnya barulah muncul cahayamenyebar di cakrawala secara horizontal, dan inilah dinamakan Fajar Shiddiq. Secara astronomis Subuh dimulai saat kedudukan matahari ( s° ) sebesar 18° di bawah horizon Timur atau disebut dengan "astronomical twilight" sampai sebelum piringan atas matahari menyentuh horizon yang terlihat (ufuk Hakiki / visible horizon). Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria sudut s=20° dengan alasan kepekaan mata manusia lebih tinggi saat pagi hari karena perubahan terjadi dari gelap ke terang.
Waktu Zuhur. Disebut juga waktu Istiwa (zawaal) terjadi ketika matahari berada di titik tertinggi. Istiwa juga dikenal dengan sebutan Tengah Hari (midday/noon). Pada saat Istiwa, mengerjakan ibadah shalat (baik wajib maupun sunnah) adalah haram. Waktu Zuhur tiba sesaat setelah Istiwa, yakni ketika matahari telah condong ke arah Barat. Waktu tengah hari dapat dilihat pada almanak astronomi atau dihitung dengan menggunakan algoritma tertentu. Secara astronomis, waktu Zuhur dimulai ketika tepi piringan matahari telah keluar dari garis zenith, yakni garis yang menghubungkan antara pengamat dengan pusat letak matahari ketika berada di titik tertinggi (Istiwa). Secara teoretis, antara Istiwa dengan masuknya Zuhur ( z° ) membutuhkan waktu 2 menit, dan untuk faktor keamanan biasanya pada jadwal shalat waktu Zuhur adalah 4 menit setelah Istiwa terjadi atau z=1°.
Waktu Ashar Menurut Mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hambali, waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Sementara Madzab Imam Hanafi mendefinisikan waktu Ashar jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar dapat dihitung dengan algoritma tertentu yang menggunakan trigonometri tiga dimensi. Secara astronomis ketinggian matahari saat awal waktu Ashar dapat bervariasi tergantung posisi gerak tahunan matahari/gerak musim. Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria waktu Ashar adalah saat panjang bayangan = panjang benda + panjang bayangan saat istiwa. Dengan demikian besarnya sudut tinggi matahari waktu Ashar ( a° ) bervariasi dari hari ke hari.
Waktu Maghrib. Diawali saat matahari terbenam di ufuk sampai hilangnya cahaya merah di langit Barat.Secara astronomis waktu maghrib dimulai saat seluruh piringan matahari masuk ke horizon yang terlihat (ufuk Mar'i / visible horizon) sampai waktu Isya yaitu saat kedudukan matahari sebesar i° di bawah horizon Barat. Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria sudut i=18° di bawah horison Barat.
Waktu ‘Isya. Diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit Barat, hingga terbitnya Fajar Shiddiq di Langit Timur. Secara astronomis, waktu Isya merupakan kebalikan dari waktu Subuh yaitu dimulai saat kedudukan matahari sebesar i° di bawah horizon Barat sampai sebelum posisi matahari sebesar s° di bawah horizon Timur.
Waktu Imsak. adalah awal waktu berpuasa. Diawali 10 menit sebelum Waktu Subuh dan berakhir saat Waktu Subuh. Ijtihad 10 menit adalah perkiraan waktu saat Rasulullah membaca Al Qur'an sebanyak 50 ayat waktu itu.
Ihtiyati, Kehati-hatian
Demi menjaga "keamanan" terhadap jadwal waktu shalat yang biasanya diberlakukan untuk suatu kawasan tertentu, maka dalam hal ini setiap awal waktu shalat menggunakan kaidah "ihtiyati" yaitu menambahkan beberapa menit dari waktu yang sebenarnya. Besarnya ihtiyati ini biasanya ditambahkan 2 menit di awal waktu shalat dan dikurangkan 2 menit sebelum akhir waktu shalat.
Diagram waktu shalat berdasarkan pergerakan matahari
Berdasarkan konsep waktu menggunakan posisi matahari secara astronomis para ahli kini berusaha membuat rumus waktu shalart berdasarkan letak geografis dan ketinggian suatu tempat di permukaan bumi dalam bentuk sebuah program komputer yang dapat menghasilkan sebuah tabulasi data secara akurat dalam sebuah "Jadwal Waktu Shalat". Kini software waktu shalat terus dibuat dan dikembangkan diantaranya: Accurate Times, Athan Software, Prayer Times, Mawaqit, Shalat Time dsb. serta software produksi BHR Departemen Agama yang disebarluaskan secara nasional yaitu Winhisab. Program ini masih terlalu sederhana untuk kelas Nasional dan saya yakin BHR bisa membuat yang lebih baik lagi.
Waktu Shalat Sunah
Tidak semua shalat sunah mempunyai waktu tertentu melainkan beberapa shalat sunah sudah diatur waktunya. Waktu-waktunya adalah mengikuti waktu shalat yang dianjarkan Nabi Muhammad s.a.w. Diantara shalat sunahyang dilakukan mengikuti waktu tertentu adalah:
· Shalat Dhuha - dilakukan ketika waktu matahari baru naik (mengikut pandangan beberapa ulama, pada ketinggian segalah atau tujuh hasta) atau sekitar 3,5° ketinggian Matahari.
· Shalat Ied - dilakukan pada waktu pagi hari raya yang pertama bagi kedu jenis hari raya tersebut, umumnya dilakukan pada waktu Dhuha yaitu waktu matahari baru naik (mengikut pandangan sebagianulama, pada ketinggian segalah)
· Shalat Tarawih - dilakukan pada waktu Isya' (umumnya dilakukan selepas Shalat Isya' sebelum kemunculan waktu imsak)
· Shalat Sunat Rawatib - dilakukan sebelum dan selepas solat fardhu. Tidak semua solat mempunyai kedua-dua solat sunat.
Waktu Haram Shalat
Berikut adalah waktu yang diharamkan solat (sebagian ulama mengatakan berlaku bagi selain tanah haram):
· Waktu selepas shalat Subuh hingga terbit matahari.
· Waktu mulai terbit matahari (syuruk) hingga matahari berada di kedudukan pada kadar segalah (tujuh hasta).
· Waktu rambang (zawal, istiwa, rembah) atau waktu tengahari (matahari tegak) hingga gelincir matahari kecuali hari Jumat.
· Waktu selepas shalat Asar hingga matahari kekuningan.
· Waktu matahari kekuningan hingga matahari terbenam.
Lalu bagaimana agar kita mudah melaksanakan shalat tepat waktu?
Ada beberapa cara agar kita bisa menjaga shalat tepat waktu:
1. Niat Niat adalah langkah awal untuk menetapkan hati agar dapat shalat tepat waktu. Dengan niat yang kuat, maka insya Allah apapun yang menghalangi kita untuk shalat tepat waktu tidak akan membuat kita menyerah.
2. Berdoa Berdoalah kepada Allah SWT agar terlindung dari kemalasan dan rintangan.
3. Zikir Sifat malas identik dengan godaan setan. Oleh karena itu perbanyaklah zikir untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
4. Mengingat hari akhir Dengan mengingat hari akhir, maka kita akan lebih terdorong untuk melakukan shalat dengan tepat waktu.
5. Bergaul dengan orang yang menjaga shalat Dengan berada di lingkungan orang yang menjaga shalat, maka kita pun akan terbiasa untuk menjaga shalat.
6. Menjaga wudhu Kadangkala kita malas shalat karena malas berwudhu, dengan selalu menjaga wudhu maka kita akan lebih merasa ringan untuk melaksanakan shalat dengan segera.
7. Gunakan alat pengingat (alarm) waktu shalat Masukkan shalat sebagai jadwal dalam kegiatan kita sehingga mau tidak mau kita harus menepatinya. Kebanyakan orang menjadikan shalat sebagai kegiatan yang diselipkan di atas kegiatan sehari-hari.
‘LA TANSA Digital System’ Menyumbangkan Jadwal Shalat Digital Otomatis
Dengan berkembangnya peradaban manusia, berbagai kemudahan-kemudahan diciptakan untuk membuat manusia lebih praktis dalam segala hal termasuk dalam beribadah khususnya shalat fardhu. Saat ini kita mengetahui banyak sekali diterbitkan jadwal waktu shalat dari berbagai instansi maupun organisasi antara lain; Departemen Agama, PP Muhammadiyah, PP Persis, PP Nahdatul Ulama (NU) dsb.
Namun kesemua teknologi yang ada, tidak dapat dilepaskan dari kaidah yang sebenarnya digunakan untuk menentukan waktu shalat yaitu "Pergerakan Matahari " dilihat dari bumi.
“Dirikanlah solat ketika gelincir matahari hingga waktu gelap malam dan dirikanlah solat subuh sesungguhnya solat subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya)”. ( Q.S. Al-Isra’ : 78 )
Dari uraian yang panjang di atas, penentuan jadwal waktu sholat digital otomatis yang ada saat ini, bukan berarti menunjukkan bahwa jaman Nabi saw. dan shahabat ketinggalan jaman karena belum ada teknologi yang memadai selalu menggunakan ru’yah terhadap matahari sebagai acuan. Tetapi semata-mata anugerah dari Allah kepada ummat akhir jaman, dimana dengan teknologi yang ada bisa diambil manfaatnya untuk menentukan waktu shalat yang akurat, tanpa harus mengesampingkan metode ru’yatusy-syam (melihat matahari).
Berdasarkan fenomena inilah LA TANSA DIGITAL SYSTEM turut mengambil peran, memanfaatkan teknologi yang ada, menghasilkan produk berupa JAM SHOLAT/PENUNJUK WAKTU SHALAT DIGITAL dengan berbagai desain dan harga yang bervariasi. Harapan kami, dengan adanya penunjuk waktu shalat yang akurat di masjid/di rumah kita, akan menambah kualitas ibadah shalat kita, sehingga umat Islam dapat menegakkan shalat seperti yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Demikin, semoga bermanfaat.
'Awal waktu shalat adalah keridhaan-Nya
akhir waktu shalat adalah ampunan-Nya
Sedang keridhaan-Nya lebih utama daripada ampunan-Nya....'
"Mari bersama, membentuk karakter ummat menjadi pribadi yang berdisiplin menjaga shalat".




No comments:
Post a Comment