Kalau kita semua berdoa tetapi tidak
punya keyakinan doa kita bakal terkabul itu adalah kesia-siaan. Lain halnya
dengan orang yang berdoa, akan tetapi yakin bahwa doanya akan terkabul adalah
orang yang benar – benar telah menghayati keimanan yang bersemi di dadanya.
Sekarang bisa diambil kesetaraannya, kalau kita punya keyakinan bahwa setiap
doa kita akan dikabulkan oleh Allah berarti kita memiliki keimanan yang kuat.
Orang tersebut akan melakukan doa dengan benar, cara yang baik, khusyu sebagai
cermin akan keyakinan yang mantap. Karena yakin doanya akan terkabul.
Pertama, mencari
waktu yang mustajab.
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mantapkan keinginannya. Karena Allah tidak keberatan dan kesulitan untuk mewujudkan sesuatu.” (H.r. Ibn Hibban dan dishahihkan Syua’ib Al-Arnauth)
Dari Jabir radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Selain itu, adalah bukti tumbuhnya
keimanan yang ngremboko dalam dirinya walau
hanya sekedar berdoa. Karena hanya bagi orang – orang yang penuh
keyakinan dan punya keimanan yang kuatlah yang memahami betul bahwa doa adalah
hal yang crusial dalam beribadah. Berikut kami paparkan beberapa adab berdoa
sesuai tuntunan agar doa kita dikabulkan:
Diantara waktu yang mustajab adalah hari
arafah, ramadhan, sore hari jumat, dan waktu sahur atau sepertiga malam
terakhir.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ينزل الله تعالى كل ليلة إلى السماء
الدنيا حين يبقى ثلث الليل الأخير فيقول عز وجل: من يدعونى فأستجب له، من يسألنى
فأعطيه، من يستغفرنى فأغفر له
“Allah turun ke langit dunia setiap
malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman: Siapa yang
berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan, siapa yang meminta-Ku, Aku beri, dan siapa yang
minta ampunan pasti Aku ampuni.” (H.r. Muslim)
Kedua, memanfaatkan
keadaan yang mustajab untuk berdoa.
Diantara keadaan yang mustajab untuk
berdoa adalah: ketika perang, turun hujan, ketika sujud, antara adzan dan
iqamah, atau ketika puasa menjelang berbuka. Abu Hurairah radliallahu
‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka ketika; jihad
fi sabillillah sedang berkecamuk, ketika turun hujan, dan ketika iqamah shalat
wajib. Manfaatkanlah untuk berdoa ketika itu.” (Syarhus Sunnah
al-Baghawi, 1: 327)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Doa antara adzan dan iqamah tidak
tertolak .” (H.r. Abu Daud, Nasa’i, danTurmudzi)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Keadaan terdekat antara hamba dengan Tuhannya
adalah ketika sujud. Maka perbanyaklah berdoa.” (H.r. Muslim)
Ketiga, Menghadap
kiblat dan mengangkat tangan
Dari Jabir radliallahu ‘anhu, bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di padang Arafah,
beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam.
(H.r. Muslim)
Dari Salman radliallahu ‘anhu,
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka
mengangkat tangan kepada-Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong
(tidak dikabulkan).” (H.r. Abu Daud & Turmudzi dan beliau hasankan)
Cara mengangkat tangan dalam berdoa:
Ibn Abbas radliallahu
‘anhu mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan
mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (H.r.
Thabrani)
Catatan: Tidak boleh melihat ke atas
ketika berdoa.
Keempat, dengan
suara lirih dan tidak dikeraskan.
Allah berfirman,
وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا
تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
“Janganlah kalian mengeraskan doa kalian
dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua
itu.” (Q.s. Al-Isra: 110)
Allah memuji Nabi Zakariya ‘alaihis
salam, yang berdoa dengan penuh khusyu’ dan suara lirih,
ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ
زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan
tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa
kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (Q.s. Maryam: 2 – 3)
Allah juga berfirman,
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan
berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. Al-A’raf: 55)
Dari Abu Musa radliallahu
‘anhu bahwa suatu ketika para sahabat pernah berdzikir dengan
teriak-teriak. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengingatkan,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى
أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ
مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ
“Wahai manusia, kasihanilah diri kalian.
Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak ada, sesungguhnya
Allah bersama kalian, Dia Maha mendengar lagi Maha dekat.” (H.r. Bukhari)
Kelima, Tidak
dibuat bersajak.
Doa yang terbaik adalah doa yang ada
dalam Alquran dan sunnah.
Allah juga berfirman,
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan
berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. Al-A’raf: 55)
Ada yang mengatakan: maksudnya adalah
berlebih-lebihan dalam membuat kalimat doa, dengan dipaksakan bersajak.
Keenam, khusyu’,
merendahkan hati, dan penuh harap.
Allah berfirman,
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي
الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang
yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan
mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang
yang khusyu’ kepada Kami.” (Q.s. Al-Anbiya’: 90)
Ketujuh, memantapkan
hati dalam berdoa dan berkeyakinan untuk dikabulkan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
لا يقل أحدكم إذا دعا اللهم اغفر لي إن
شئت اللهم ارحمني إن شئت ليعزم المسألة فإنه لا مُكرِه له
“Janganlah kalian ketika berdoa dengan
mengatakan: Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku,
jika Engkau mau. Hendaknya dia mantapkan keinginannya, karena tidak ada yang
memaksa Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mantapkan keinginannya. Karena Allah tidak keberatan dan kesulitan untuk mewujudkan sesuatu.” (H.r. Ibn Hibban dan dishahihkan Syua’ib Al-Arnauth)
Diantara bentuk yakin ketika berdoa
adalah hatinya sadar bahwa dia sedang meminta sesuatu. Dari Abu
Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
“Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin
akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati
yang lalai, dan lengah (dengan doanya).” (H.r. Turmudzi)
Banyak orang yang lalai dalam berdoa
atau bahkan tidak tahu isi doa yang dia ucapkan. Karena dia tidak paham bahasa
Arab, sehingga hanya dia ucapkan tanpa direnungkan isinya.
Kedelapan, mengulang-ulang
doa dan merengek-rengek dalam berdoa.
Misalnya, orang berdoa, “Yaa Allah,
ampunilah hambu-MU, ampunilah hambu-MU…, ampunilah hambu-MU yang penuh dosa
ini. ampunilah ya Allah…. ” Dia ulang-ulang permohonannya. Semacam ini
menunjukkan kesungguhhannya dalam berdoa.
Ibn Mas’ud mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau berdoa,
beliau mengulangi tiga kali. Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau
mengulangi tiga kali. (H.r. Muslim).
Kesembilan, tidak
tergesa-gesa agar segera dikabulkan, dan menghindari perasaan: “Mengapa doaku
tidak dikabulkan atau kalihatannya Allah tidak akan mengabulkan doaku.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ
يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى
“Akan dikabulkan (doa) kalian selama
tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan: Saya telah berdoa, namun belum saja
dikabulkan.” (H.r. Bukhari dan Muslim)
Sikap tergesa-gesa agar segera
dikabulkan, tetapi doanya tidak kunjung dikabulkan, menyebabkan dirinya malas
berdoa. Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع
بإثم أو قطيعة رحم، ما لم يستعجل، قيل: يا رسول الله وما الاستعجال؟ قال: يقول قد
دعوت وقد دعوت فلم أر يستجيب لي، فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء رواه مسلم.
“Doa para hamba akan senantiasa
dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim,
selama dia tidak terburu-buru. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apa yang
dimaksud terburu-buru dalam berdoa?. Beliau bersabda: “Orang yang berdoa ini
berkata: Saya telah berdoa, Saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan.
Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa.” (H.r. Muslim dan Abu Daud)
Sebagian ulama mengatakan: “Saya pernah
berdoa kepada Allah dengan satu permintaan selama dua puluh tahun dan belum
dikabulkan, padahal aku berharap agar dikabulkan. Aku meminta kepada Allah agar
diberi taufik untuk meninggalkan segala sesuatu yang tidak penting bagiku.”
Kesepuluh, memulai
doa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Bagian dari adab ketika memohon dan
meminta adalah memuji Dzat yang diminta. Demikian pula ketika hendak berdoa
kepada Allah. Hendaknya kita memuji Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang
mulia (Asma-ul Husna).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia
tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Kemudian beliau bersabda: “Orang ini terburu-buru.” kemudian Beliau
bersabda,
إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز
والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء
“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia
memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.”(H.r.
Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan al-Albani)
Kesebelas, memperbanyak
taubat dan memohon ampun kepada Allah.
Banyak mendekatkan diri kepada Allah
merupakan sarana terbesar untuk mendapatkan cintanya Allah. Dengan dicintai
Allah, doa seseorang akan mudah dikabulkan. Diantara amal yang sangat dicintai
Allah adalah memperbanyak taubat dan istighfar.
Dari Abu Hurairah radliallahu
‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ
أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ
إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ….، وَإِنْ
سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ
“Tidak ada ibadah yang dilakukan
hamba-Ku yang lebih Aku cintai melebihi ibadah yang Aku wajibkan. Ada hamba-Ku
yang sering beribadah kepada-Ku dengan amalan sunnah, sampai Aku mencintainya.
Jika Aku mencintainya maka …jika dia meminta-Ku, pasti Aku berikan dan jika
minta perlindungan kepada-KU, pasti Aku lindungi…” (H.r. Bukhari)
Diriwayatkan bahwa ketika terjadi musim
kekeringan di masa Umar bin Khatab, beliau meminta kepada Abbas untuk berdoa.
Ketika berdoa, Abbas mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya tidaklah turun musibah
dari langit kecuali karena perbuatan dosa. dan musibah ini tidak akan hilang,
kecuali dengan taubat…”
Kedua belas, hindari
mendoakan keburukan, baik untuk diri sendiri, anak, maupun keluarga.
Allah berfirman, mencela manusia yang
berdoa dengan doa yang buruk,
“Manusia berdoa untuk kejahatan
sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat
tergesa-gesa.” (Q.s. Al-Isra’: 11)
Allah juga berfirman,
وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ
الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُم بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ
“Kalau sekiranya Allah menyegerakan
keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan,
pastilah diakhiri umur mereka (binasa).” (Q.s. Yunus: 11)
Ayat ini berbicara tentang orang yang
mendoakan keburukan untuk dirinya, hartanya, keluarganya, dengan doa keburukan.
Dari Jabir radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تدعوا على أنفسكم، ولا تدعوا على
أولادكم، ولا تدعوا على خدمكم، ولا تدعوا على أموالكم، لا توافق من الله ساعة يسأل
فيها عطاء فيستجاب لكم
“Janganlah kalian mendoakan keburukan
untuk diri kalian, jangan mendoakan keburukan untuk anak kalian, jangan
mendoakan keburukan untuk pembantu kalian, jangan mendoakan keburukan untuk
harta kalian. Bisa jadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah bertepatan
dengan waktu mustajab, pasti Allah kabulkan.” (H.r. Abu Daud)
Dari Abu Hurairah radliallahu
‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع
بإثم أو قطيعة رحم
“Doa para hamba akan senantiasa
dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus
silaturrahim.” (H.r. Muslim dan Abu Daud)
Ketiga belas, menghindari
makanan dan harta haram.
Makanan yang haram menjadi sebab
tertolaknya doa.
Dari Abu Hurairah radliallahu
‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ
لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ
بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ
وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ
الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ
يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ
وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya
Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik
pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin
seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para
Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga
berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang
Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah
lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut,
masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a:
“Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram,
minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan
makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan
do’anya? (H.r. Muslim).
Allahu a’lam

No comments:
Post a Comment