Tidak diragukan lagi, bahwasanya
empat Imam madzhab dalam Islam menghormati dan memuliakan para Shahabat
radhiyallahu ‘anhum. Hal ini dapat dilihat di dalam buku-buku induk dalam
akidah yang tersebar di kalangan kaum muslimin.
Semua ini menunjukkan pemulian dan
penghormatan mereka kepada para Shahabat radihyallahu ‘anhum yang telah banyak
berjasa dalam agama ini, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah
Ta’ala untuk menemani Nabi-Nya dan mendapatkan pujian langsung dari Rabb alam
semesta sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an.
Berikut pendangan Imam Madzhab
terhadap shahabat Rasulullallah shallallahu ‘alaihi wasallam:
Pertama:
Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’maan bin Tsaabit rahimahullah (wafat tahun 150
hijriyyah) mengatakan:
A. “Kami tidak menyebut seorangpun
dari Shahabat Rasul kecuali dengan kebaikan.” (Al-Fiqhu Al-Akbar, halaman 304)
“kami tidak berlepas diri dari seorangpun dari shahabat Rasulullallah
shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kami tidak berloyalitas kepada salah seorang
dari mereka tanpa yang lainnya.” (ertinya beliau memuliakan seluruh shahabat
radhiyallahu ‘anhum). (Al-fiqhu Al-Abshath, halaman 40)
B. “satu jam kedudukan salah seorang
dari mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu lebih baik
dibandingkan amalan salah seorang di antara kita dalam seluruh umurnya walaupun
panjang umurnya. (Manaaqiib Abu Hanifah karya Al-Makkiy, halaman 76)
C. “Kami mengikrarkan bahwa
sesungguhnya manusia terbaik ummat ini setelah Nabi kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam adalah; Abu Bakar Ash-Shiddiiq, Umar, Utsman kemudian Ali,
semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.” ( Syarh Al-Washiyyah karya Mulla
Hasan, halaman 14)
D. “Manusia terbaik setelah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah; Abu Bakar, Umar, Utsman
kemudian Ali. Kemudian kita menahan (lisan) dari seluruh Shahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali dengan ucapan yang baik.” (An-Nuur
Al-Laami’ wa Al-Burhaan As-Saathi’ karya An-Naashiriy, kitab ini masih dalam
bentuk manuskrip di Maktabah As-Sulaimaniyyah, Turkiy. Nomor 2973.
Kedua: Al-Imam
Malik bin Anas rahimahullah (wafat tahun 179 hijriyyah) mengatakan:
A. “Barangsiapa yang merendahkan
salah seorang Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau dalam
hatinya ada kedengkian terhadap mereka, maka ia tidak berhak mendapatkan harta
perang kaum muslimin, kemudian beliau membaca ayat : orang-orang yang datang
setelah mereka mengatakan ‘wahai Rabb kami ampunilah dosa kami dan
saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan dan janganlah
Engkau berikan kebencian dalam hati kami.’ (Al-Hasyr: 10). Maka barangsiapa
yang meremehkan mereka atau ada kebencian terhadap mereka di dalam hatinya,
maka ia tidak berhak mendapatkan harta perang.” (Hilyah Al-Auliyaa wa Thobaqoot
Al-Ashfiyaa karya Al-Hafidz Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy, 6/327)
B. Abu Nu’aim meriwayatkan dari
seorang dari Abdullah bin Naafi’, ia berkata: “dahulu kami bersama Malik,
mereka pun menyebutkan seorang laki-laki yang merendahkan Shahabat
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, maka (Al-Imam Malik) membaca ayat ini:
“Muhammad adalah Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya sangat keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat
mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya. Pada wajah
mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam
Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti benih yang
mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan
tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya,
karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.” (Al-Fath: 29),
kemudian (Al-Imam) Malik berkata: “barangsiapa yang terdapat kebencian dalam
hatinya terhadap salah seorang Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, sungguuh ayat ini telah menimpanya.”
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah
ketika menafsirkan ayat 29 dalam surah Al-Fath di atas, berkata: “Dari ayat ini Al-Imam Malik
mengeluarkan vonis kafir terhadap (Syi’ah) Rofidhoh yang membenci Shahabat, ia
berkata; ‘karena mereka(Syi’ah Rofidhoh) membenci mereka(Shahabat), dan
barangsiapa yang membenci Shahabat maka ia adalah kafir berdasarkan ayat ini’,
sebagian kelompok dari kalangan ulama menyepakatinya dalam hal tersebut. Dan
hadit-hadits tentang keutamaan para shahabat dan larangan menjelekkan mereka
sangat banyak, maka cukuplah pujian dan keridhaan Allah atas mereka”. (Tafsir
Ibnu Katsir 7/362. Tepatnya pada tafsir ayat di atas).
Ketiga :
Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’iy rahimahullah (wafat tahun 204
hijriyyah), berkata:
A. “Allah Tabaraka wa Ta’aala memuji
Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Al-Qur’an, Taurat dan
Injil, dan telah berlalu dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi berupa
keutamaan yang tidak didapatkan siapapun setelah mereka, maka Allah merahmati
mereka dan membahagikan mereka dengan mencapai derjat tertingginya orang-orang
jujug, para Syuhada dan orang-orang shalih. Mereka menyampaikan kepada kita
sunah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka menyaksikan
wahyu turun kepada beliau. Mereka mengetahui apa yang diinginkan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik secara umum maupun khusus, pasti
dan sebagai petunjuk. Mereka mengetahui sunnah-sunnahnya sesuatu yang kita
ketahui dan yang tidak kita ketahui, mereka berada di atas kita dalam segala
ilmu dan ijtihad, kewaraan, akal dan perkara yang bisa dijangkau dengan ilmu
dan diambil pendalilan darinya, pendapat-pendapat mereka lebih mulia bagi kita
dan lebih utama untuk kita dibandingkan pendapat-pendapat kita sendiri bagi
diri-diri kita, wallahu a’lam.” (Manaaqib Asy-Syaafi’iy 1/442 karya Al-Imam
Al-Baihaqiy rahimahullah, cetakan pertama Daar At-Turots tahun 1406 Hijriyyah,
Mesir).
B. Dari Robi’ bin Sulaiman berkata:
“saya mendengar Asy-Syaafi’iy berkata mendahulukan; Abu Bakar, Umar, Utsman dan
Ali.” (Manaaqib Asy-Syaafi’iy 1/432 karya Al-Imam Al-Baihaqiy rahimahullah,
cetakan pertama Daar At-Turots tahun 1406 Hijriyyah, Mesir).
C. Dari Muhammad bin Abdullah bin
Abdulhakam berkata: saya mendengar Asy-Syaafi’iy berkata “Manusia terbaik
setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar, kemudian
Umar, kemudia Utsman, kemudian Ali -semoga allah meridhai mereka-.” ((Manaaqib
Asy-Syaafi’iy 1/433 karya Al-Imam Al-Baihaqiy rahimahullah, cetakan pertama
Daar At-Turots tahun 1406 Hijriyyah, Mesir).
D. Dari Yusuf bin Yahya bin
Al-Buwaithiy berkata: saya bertanya kepada Asy-Syaafi’iy apakah saya (boleh)
shalat dibelakang Rofidhiy? (maksudnya pengikut Syi’ah Rofidhoh), ia
(Asy-Syafi’iy) berkata “janganlah engkau shalat di belakang Rofidhiy, Qodariy
dan Murji’iy” (ketiga-tiganya adalah penganut ajaran sesat), saya berkata
“sebutkan sifat mereka kepada kami”, ia (Asy-Syafi’iy) berkata “barangsiapa
yang mengatakan keimanan adalah ucapan (saja) maka ia adalah Murji’iy, dan
barangsiapa yang mengatakan ‘sesungguhnya abu Bakar dan Umar bukan
Imam(Khalifah) maka ia adalah Rofidhiy, dan barangsiapa yang menjadikan
kehendak kepada dirinya maka ia adalah seorang Qodariy.” (Manuskrip Dzammul
Kalaam lembaran nomor: 213)
Keempat:
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat 241 hijriyyah) berkata:
A. “Termasuk dari sunnah menyebut
kebaikan seluruh para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
menahan diri dari menyebut aib mereka serta perselisihan yang terjadi di antara
mereka. Barangsiapa yang mencela para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam atau salah seorang di antar mereka maka ia adalah seorang
mubtadi’(Ahlul bid’ah) pengikut (Syi’ah) Rofidhoh yang keji dan zalim Allah
tidak menerima taubat dan kewajibannya. Bahkan sebaliknya, mencintai mereka
adalah sunnah, mendoakan (kebaikan) bagi mereka adalah ibadah, mencontoh mereka
adalah sarana (kebaikan), dan mengambil atsar mereka adalah keutamaan.” (Kitab
As-Sunnah karya beliau, halaman 77-78).
B. Al-Imam Ahmad berkata kepada
Musaddad: “engkau bersaksi bagi sepuluh (shahabat ) masuk surga; Abu Bakar,
Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad, Sa’iid, Abdurahman bin ‘Auf, Abu
‘Ubaidah bin Al-dan Jarraah beserta orang yang dijamin oleh Nabi shalallahu
‘alaihi wa sallam (masuk surga), kami bersaksi bahwa ia masuk surga.” (Manaaqib
Al-Imam Ahmad karya Ibnul Jauzy, halaman 170, cetakan Daar Al-Aafaaq
Al-Jadiidah).
C. Abdullah bin Ahmad berkata kepada
ayahnya: “saya bertanya kepada ayahku tentang para imam(khalifah), ia berkata
“Abu Bakar, Umar, Utsman kemudian Ali.” (As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad,
halaman 235, Daar Ibnul Qoyyim, Dammaam tahun 1406 hijriyyah)
D. Abdullah bin Ahmad berkata: “saya
bertanya kepada ayahku tentang suatu kaum yang mengatakan “sesungguhnya Ali
bukan Khalifah”, ia berkata “ini adalah ucapan yang buruk dan jelek.”
(As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, halaman 235, Daar Ibnul Qoyyim, Dammaam
tahun 1406 hijriyyah) “Barangsiapa yang tidak mengakui kekhalifahan Ali, maka
ia lebih sesat dari keledai ternaknya.” (Manaaqib Al-Imam Ahmad, halaman 163,
cetakan Daar Al-Aafaaq).
Berkata Al-Imam Abu Utsman
Ash-Shobuniy rahimahullah: “Barangsiapa yang mencintai dan loyal kepada
mereka(para Shahabat) serta mendoakan kebaikan bagi mereka, sungguh ia termasuk
orang-orang yang beruntung, dan barangsiapa yang membenci dan mencela mereka
serta memvonis mereka dengan vonisnya kaum Rofidhoh dan Khawarij, sungguh ia
termasuk orang-orang yang celaka.” (Akidah As-Salaf Ashhaabul Hadits, halaman
90).
Semoga Allah menjadikan kita
seluruhnya termasuk golongan manusia yang mencintai, memuliakan dan menghormati
Shahabat Nabi shallallahu radhiyallahu ‘anhum.
[I'tiqod Al-Aimmah Al-Arba'ah, karya Muhammad
bin Abdurrahman Al-Khumaiyyis dan tahqiq Jamal 'Azzuun terhadap
kitab I'tiqod Ahlissunnah, karya Al-Imam Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin
Ibrohim Al-Ismaa'iliy]

No comments:
Post a Comment