Maryam
atau Maryam binti ‘Imran adalah seorang tokoh wanita sholehah yang secara
khusus namanya diabadikan oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- dalam salah satu
nama surah dalam Al-Qur’an yang Karim. Ia adalah wanita yang berakhlaq mulia
juga ahlul ibadah. Ia hidup sezaman dengan nabi Zakariyya -’Alayhissalam- yang
tak lain adalah pamannya sendiri. Ia adalah wanita yang diistimewakan. Maryam
binti ‘Imran berasal dari keluarga ‘Imran yang diberkahi Allah. Keluarga ‘Imran
adalah orang-orang yang sholeh yang tinggal di Nasharat (Nazaret), yakni sebuah
tempat di utara Isra’il (Israel).
Ayahanda
Maryam bernama ‘Imran bin Yasim, seorang imam di Masjidil Aqsha. Dan ibunda
Maryam bernama Hanna binti Yaqudz. Allah -Tabaraka wa Ta’ala- mengabadikan
kisah ini di dalam Al-Qur’an Al-Karim pada Qs Ali ‘Imran; Qs Maryam; Qs An-Nisa’;
dan Qs At-Tahrim.
Allah
-Tabaraka wa Ta’ala- telah berfirman: “Sesungguhnya Allah telah memilih
Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imran melebihi segala ummat (di
masanya)!”. (QS Ali ‘Imran: 33).
Di
serambi Baitul Maqdis, Maryam binti ‘Imran dilahirkan, yang kemudian oleh
ibunya diberi nama Maryam yang berarti “Wanita yang rajin beribadah”
sebagaimana Allah menerangkan dalam firman-Nya:
“Maka
tatkala isteri ‘Imran (Hanna) melahirkan anaknya, diapun berkata: ‘Yaa Tuhanku,
sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih
mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak
perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan
untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau daripada syaitan yang
terkutuk!’”. (QS Ali ‘Imran: 36).
MARYAM
AS LAHIR KETIKA ‘IMRAN AS (AYAHNYA) SUDAH WAFAT
Menurut
sejarah, ‘Imran dan Hanna yang sama-sama sudah tua dan belum punya anak, suatu
hari mereka melihat burung di pohon sedang makan, tiba-tiba saja Hanna
berkeinginan memiliki anak. Maka Hanna berdoa kepada Allah agar ia diberi anak,
dan ia pun bersumpah, jika doanya dikabulkan, maka anaknya itu akan
dipersembahkan kepada Allah diurus di Baitul Maqdis. Dia (Hanna) berdoa untuk
anaknya agar tetap dilindungi dari syaitan.
Ketika
Hanna hamil Maryam, ‘Imran meninggal dunia. Dan ketika Maryam binti ‘Imran
-’Alayhissalam- lahir, maka ibundanya (Hanna) mengadakan undian untuk mengundi
siapa orang yang berhak menjadi wali Maryam -’Alayhissalam- untuk diurus di
Baitul Maqdis. Sebab memang Maryam binti ‘Imran menjadi rebutan di kalangan
Bani Isra’il pada saat itu, karena kesholehan Maryam sendiri. Dan ternyata
undian tersebut dimenangkan oleh Zakariyya, pamannya sendiri, sekaligus wali
yang memelihara Maryam di Baitul Maqdis.
Maka
selanjutnya Maryam (Bunda Maria) diberikan kepada pamannya yang bernama
Zakariya (Nabi Zakariyya -’Alayhissalam-). Gadis suci ini dibesarkan di sudut
Baitul Maqdis. Dibagian bawah Baitul Maqdis ini terdapat bilik Maryam. Hari-harinya
dihabiskan dengan senantiasa beribadah dan berdzikir mengagungkan kekuasaan
Allah. Keanehan terjadi setiap kali pamanya mengantarkan makanan didapati telah
tersedia makanan di biliknya dengan aneka buah-buahan yang ada disana.
Allah
-’Azza wa Jalla- telah berfirman: “Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar)
dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan
Allah menjadikan Zakariyya pengasuhnya. Setiap Zakariyya masuk untuk menemui
Maryam di mihrab, dia dapati makanan di sisinya. Zakariyya berkata: ‘Wahai
Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab: ‘Makanan itu
dari sisi Allah’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang
dikehendaki-Nya tanpa hisab”. (QS Ali ‘Imran: 37).
MALAIKAT
JIBRIL AS DATANG KEPADA MARYAM BINTI ‘IMRAN AS
Suatu
ketika beliau menginjak dewasa, Maryam pulang ke kampungnya di Nasharat. Di
sinilah awal beliau mendapat amanah agung mengenai beliau akan mengandung
seorang putra yang tak lain adalah Nabi ‘Isa -’Alayhissalam-. Sebagaimana Allah
abadikan kisah ini di dalam Al-Qur’an surah Maryam ayat ke 42 & 45:
“Dan
(ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah
telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di
dunia (di masanya)’”. (QS Maryam: 42).
“(Ingatlah),
ketika Malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu
(dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang)
daripada-Nya, namanya Al-Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia
dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (QS
Maryam: 45).
Fenomena
langka ini kontan membuat Maryam terkejut dan bingung tak terkira. Ditambah
penampakan malaikat Jibril -’Alayhissalam- yang menghampirinya. Ini tersurat
dalam firman Allah di dalam Surah Maryam ayat 47:
“Maryam
berkata: ‘Yaa Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum
pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.’ Allah berfirman (dengan perantaraan
Jibril): ‘Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah
berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: ‘Kun
(Jadilah) lalu jadilah ia’”. (QS Maryam: 47).
Maka
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menunjukkan kebesaran-Nya dengan meniupkan ruh
melalui Malaikat Jibril ke dalam rahim Maryam.
Allah
-Ta’ala- berfirman: “Dan (ingatlah) Maryam binti ‘Imran yang memelihara
kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan)
Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya (perkataan Tuhannya) dan
Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat”. (QS
At-Tahrim: 12).
Setelah
beberpa saat lamanya, Maryam pun kembali pulang ke Ursalim (Yerusalem) dengan
keadaan mengandung. Disinilah bermula keimanan dan ketaqwaan Maryam diuji
dengan beragam fitnah yang menghujani dirinya. Masyarakat menjadi memandangnya
jelek (buruk), menuduh ia seorang pezinah dll. Lalu dengan petunjuk Allah,
beliau pergi ke arah timur menuju satu tempat yang jauh.
Allah
-’Azza wa Jalla- berfirman: “Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan
diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh”. (QS Maryam: 22).
Sampailah
Maryam binti (putri) ‘Imran di suatu tempat di Baitul Laham (Betlehem) sebuah
kota Palestina di Tepi Barat (kini), dalam keadaan hamil tua yang tinggal
menunggu saat-saat melahirkan dengan keadaan yang lemah dan lelah, namun dengan
iman dan ketaqwaanya yang kokoh ia teguh beriman kepada Allah.
Allah
-’Azza wa Jalla- berfirman: “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia
(bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku
mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan’”.
(QS Maryam: 23).
Allah
-Tabaraka wa Ta’ala- tidak membiarkan ia sendiri dalam keadaanya yang begitu
mendesak. Allah kembali mengirim bantuanya melalui Malaikat Jibril.
Allah
-’Azza wa Jalla- berfirman: “Maka menyerulah dia (Jibril) kepadanya dari
tempat yang rendah: ‘Janganlah kau bersedih hati. Sesungguhnya Tuhanmu telah
menjadikan di dekatmu sebuah anak sungai (untuk diminum)!’”. (QS Maryam:
24).
MARYAM
BINTI ‘IMRAN AS MENGGOYANG-GOYANGKAN POHON KURMA
Dan
setelah ia meminumnya, maka ia menggoyang-goyangkan Pohon Korma untuk memakan
buah Korma tersebut.
Allah
berfirman: “Dan goyanglah pangkal pokok korma itu ke arahmu. niscaya pokok
korma itu akan menggugurkan kepadamu korma yang masak ranum! Maka makanlah dan
minumlah dan senangkanlah hatimu. Maka jika engkau melihat ada seorang anak
manusia, katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar di hadapan Tuhan Yang
Maha Pengasih, maka sekali-kali tidaklah aku bercakap-cakap, sejak hari ini
dengan seorang manusia pun’!”. (QS Maryam: 26).
Maka
Nabi ‘Isa Almasih -’Alayhissalam- pun terlahir di tempat itu (di Baitul Laham),
yaitu terlahir di bawah pohon Kurma tersebut, dengan kelebihan-kelebihan yang
telah dianugerahkan oleh Allah -’Azza wa Jalla- kepadanya. Salah satu kelebihan
Nabi ‘Isa -’Alayhissalam- adalah, dia mampu berbicara fasih seperti orang yang
sudah besar, padahal dikala itu dia masih bayi yang baru saja terlahir ke dunia.
Allah
-Subhanahu wa Ta’ala- berfirman: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan
kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku
dibangkitkan hidup kembali”. (QS Maryam: 33)
Dikisahkan,
Maryam binti ‘Imran membawa anaknya itu yang baru saja terlahir (Nabi ‘Isa
Almasih -’Alayhissalam-) ke hadapan orang-orang banyak di Baitul Laham
(Betlehem), setelah mereka tau bahwa Maryam memiliki anak tanpa ayah (suami).
Mereka semua lantas menuduh Maryam berbuat zina.
Allah
Ta’ala berfirman: “Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan
menggendongnya. Kaumnya berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan
sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun (Maryam binti ‘Imran),
ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah
seorang pezinah’”. (QS Maryam: 27 – 28).
Dengan
hujatan-hujatan dari mereka itu, kemudian Maryam menunjuk bayinya. Allah
berfirman:
“Maka
Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ‘Bagaimana kami akan berbicara
dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?’”. (QS Maryam:
29).
NABI
‘ISA ALMASIH AS YANG BARU SAJA LAHIR BISA BERBICARA DI HADAPAN BANI ISRA’IL
Tiba-tiba
saja muncul-lah keajaiban (mukjizat). Nabi ‘Isa Almasih yang masih bayi itu
tiba-tiba saja bisa berbicara fasih seperti orang yang sudah besar.
Allah
berfirman: “‘Isa berkata: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku
Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku
seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku
(mendirikan) sholat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti
kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka’”.
(QS Maryam: 30 – 32).
Allah
berfirman: “Itulah ‘Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar,
yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya”. (QS Maryam: 34).
Nah
setelah Maryam dan Nabi ‘Isa -’Alayhissalam- beberapa lama tinggal di Baitul
Laham, tibalah saatnya bagi Maryam dan anaknya (Nabi ‘Isa) untuk hijrah ke
negeri Mesir dikarenakan keamanan yang memburuk di negeri kelahiran mereka.
Selama 12 tahun lamanya mereka menetap di Mesir, perjuangan membesarkan nabi
Isa Al-Masih -’Alayhissalam- di Mesir dilakukannya dengan penuh kesabaran,
sampai-sampai Maryam disana bekerja sebagai buruh tani gandum.
Setelah
12 tahun di Mesir, akhirnya mereka kembali lagi ke Tanah Air asalnya,
Palestina, dan menetap disana. Di Palestina, Nabi ‘Isa Almasih diangkat menjadi
rasul, beliau terus-menerus berdakwah kepada Bani Isra’il sambil diiringi oleh
ibunya sendiri, yaitu Maryam binti ‘Imran, dan dibantu oleh kedua belas murid
‘Isa, yaitu Hawariyyun.
WAFATNYA
MARYAM BINTI ‘IMRAN AS
Berdasarkan
riwayat Wahab bin Munabbih, bahwasanya nenek Idris telah berkata: “Saya telah
menemukan sebagian kitab ‘Isa Al-Masih (yang membahas tentang wafatnya Maryam
binti ‘Imran -’Alayhissalam-)”.
Berikut
ini adalah kisahnya:
Nabi
‘Isa Almasih -’Alayhissalam- berkata kepada ibunya, Maryam binti ‘Imran
-’Alayhissalam-: “Hai ibuku, sesungguhnya dunya ini adalah kampung yang akan
punah, kampung yang akan hilang. Sesungguhnya akhirat adalah kampung yang
langgeng. Untuk itu, wahai Ibuku yang kucintai, marilah kita pergi bersama
saya!”.
NABI
‘ISA ALMASIH AS
Kemudian
Maryam binti ‘Imran bersama Nabi ‘Isa Almasih, anaknya itu, pergi ke gunung
Libanon. Di gunung tersebut mereka berdua berpuasa di siang hari dan malam
harinya menegakkan sholat malam. Mereka hanya makan dari dedaunan, pepohonan, dan
minum air hujan saja; dan disana mereka tinggal sangat lama.
Suatu
hari Nabi ‘Isa Almasih turun gunung menuju ke kota yang bertujuan untuk mencari
makanan untuk beriftar (berbuka puasa bersama). Nabi ‘Isa Almasih turun gunung
meninggalkan Ibunya, ternyata pada saat itu Ibunya didatangi oleh Malaikat Maut
(yang sebelumnya Maryam tidak tahu kalau sesosok itu adalah Malaikat Maut).
Malaikat Maut itu mendekati ibunda Nabi ‘Isa Almasih seraya berkata dan
mengucapkan salam: “Assalamu ‘alaika, wahai Maryam, orang yang patuh dalam
berpuasa dan sholat pada malam harinya”.
Lantas
Maryam binti ‘Imran menjawab: “Siapa engkau?! Sungguh sekujur badanku sangat
gemetar karena takut mendengar suaramu dan kewibawaanmu”.
Malaikat
Maut menjawab: “Saya adalah Malaikat Maut. Saya tidak mengenal rasa belas
kasihan terhadap anak-anak kecil, tidak mengenal rasa memuliakan terhadap
mereka yang sudah tua atau mengenal karena kebesaran dia. Sebab saya-lah yang
bertugas mencabut nyawa makhluk hidup”.
MARYAM
AS KESAKITAN KETIKA DICABUT NYAWA OLEH MALAIKAT MAUT
Maka
Maryam berkata: “Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang kemari untuk
berkunjung kesini ataukah engkau memang akan mencabut nyawaku?”.
Malaikat
Maut menjawab: “Bersiap-siaplah engkau mati, wahai Maryam!”.
Maryam
berkata kepadanya: “Apakah engkau tidak mengizinkanku, supaya menunggu sampai
kedatangan anak kesayanganku, yang menjadi buah hatiku dan penawar atas segala
kesusahanku?!”.
Malaikat
Maut menjawab dengan tegas: “Saya tidak diperintahkan untuk itu. Dan saya
hanyalah sebatas hamba yang takluk kepada perintah Allah. Demi Allah, saya
tidak akan mampu mencabut nyawa seekor nyamukpun, kecuali saya sudah
diperintahkan oleh Allah. Hal ini supaya saya tidak menyia-nyiakan waktu
sedetikpun, sehingga saya mencabut nyawamu di tempat ini juga!”.
Maryam
berkata: “Wahai malaikat maut, kalau engkau sudah menerima perintah dari Allah
-Ta’ala-. maka tunaikan saja perintah itu!”. Maka Malaikat Maut mendekati
Maryam ketika Maryam sedang duduk beribadah, lalu ruh Maryam di cabut dan ia mati.
Nabi
‘Isa Almasih terlambat datang tidak seperti biasanya. Bahkan dia kembali ke
tempatnya itu pada saat sudah waktunya masuk waktu ashar akhir (mendekati
magrib). Dia membawa sayur-mayur sekaligus kubis. Setelah meletakkan
sayur-mayur, kemudian Nabi Isa -’Alayhissalam- ikut sholat di samping Ibunya
sampai larut malam.
Tengah
malam yang sunyi dan senyap, waktunya berbuka puasa bagi Nabi ‘Isa Almasih. Dia
memanggil halus kepada Ibundanya: “Assalamu ‘alaika, wahai ibuku. Sesungguhnya
sekarang telah masuk waktu malam, waktunya berbuka puasa bagi orang yang
berpuasa, serta waktu tegaknya orang-orang beribadah kepada Allah -Subhanahu wa
Ta’ala-. Mengapa ibu tidak juga berdiri beribadah kepada Allah -Yang Maha
Pengasih-?!”.
Maryam
binti ‘Imran tetap diam dalam duduknya. Nabi ‘Isa Almasih menyangka ibunya itu
duduk karena ketiduran pada saat ia sholat. Nabi ‘Isa Almasih lantas mengulang
perkataannya terhadap ibunda nya itu: “Hai ibuku, sesungguhnya dalam tidur
memang ada kenikmatan”.
Nabi
‘Isa pun lantas berdiri menghadap kiblat untuk beribadah, dia tidak berbuka
puasa karena tidak bersama ibunya. Dia tidak berbuka puasa kecuali bersama-sama
ibu nya.
Maka
mulai timbul-lah keresahan dalam ibadah Nabi ‘Isa Almasih. Dalam keadaan
berdiri dan gelisah, dia tetap memanggil ibunya: “Assalamu ‘alaika, wahai
ibuku”, sambil berkata dengan pelan karena ibunya tidak menyahutnya juga.
Kemudian
dia melanjutkan ibadahnya sampai terbit fajar. Subuh yang agak kelam ini, dia
meletakkan pipinya ke pipi ibunya, sambil dia berseru memanggil ibunya disertai
tangisan keras yang disebabka
Dia
menyeru keras: “Assalamu’alaika, wahai ibuku! Sungguh malam telah habis dan
disambut oleh pagi. Adalah waktu untuk menunaikan kewajiban terhadap Allah!”.
Seketika
itu menangis-lah seluruh malaikat di langit; jin-jin di sekitarnya;
gunung-gunung pun bergoncang, (sebab kerasnya tangisan Nabi ‘Isa yang tidak
mengetahui ibunya telah meninggal dunia).
Kemudian
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berkata kepada para malaikat-Nya: “Hai para
malaikat, kenapa kalian semua menangis?”. Para malaikat menjawab: “Yaa Tuhanku,
Engkau-lah Yang Maha Mengetahui. Tentulah Engkau tahu kenapa kami semua
menangis”.
Allah
berkata: “Ya, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui dan Aku Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang”.
Dalam
keadaan seperti itu, tiba-tiba aja ada suara yang berseru kepada Nabi ‘Isa
Almasih: “Wahai ‘Isa, angkatlah wajahmu. Sesungguhnya Ibundamu itu sudah
meninggal dunia dan Allah -Ta’ala- sudah melipatgandakan pahalamu!”.
Maka
menangislah Nabi ‘Isa ketika wajahnya itu masih terangkat sambil merintih.
Sambil
menangis, Nabi ‘Isa berkata: “Lalu sekarang siapa lagi yang akan menjadi
temanku disaat aku kesepian? Siapa lagi yang akan menemaniku untuk
bersendagurau? Siapa lagi sekarang yang menemaniku dalam beribadah kepada Allah
-Subhanahu wa Ta’ala-?”.
Maka
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- pun berfirman kepada gunung: “Wahai gunung, berilah
‘Isa nasehat!”. Maka gunungpun memberi ‘Isa nasihat.
Gunung
berkata: “Wahai ‘Isa, apa arti kesusahanmu ini, ataukah Allah?, Engkau
menghendaki agar ibumu menjadi pendamping yang menggembirakan kamu?!”.
Setelah
gunung itu menasehati Nabi ‘Isa, kemudian Nabi ‘Isa turun gunung, singgah dari
desa ke desa, untuk mencari tempat tinggal bani Isra’il”.
Nabi
‘Isa berkata kepada Bani Isra’il di sana: “Assalamu’alaikum, wahai Bani Isra’il
(Suku Israel)”.
Mereka
menjawab: “Kamu siapa? Wajahmu sungguh terang.”
Nabi
‘Isa Almasih menjawab: “Saya adalah Ruh Allah, Nabi ‘Isa Almasih. Ketahuilah,
ibuku telah meninggal dunia dalam perjalanan, maka tolonglah saya untuk memandikan,
mengkafani dan memakamkan jenazah ibuku. Ia sekarang berada di gunung sana”.
Bani
Isra’il menjawab: “Wahai Ruh Allah, sesungguhnya di gunung tersebut banyak
sekali ular-ular yang besar dan hewan yang ganas lainnya, yang sama sekali
belum pernah dilalui oleh nenek moyang kami atau ayah kami sejak 300 tahun yang
lalu”.
Nabi
‘Isa Almasih memaklumi keadaan mereka. Kemudian diapun kembali naik ke atas
gunung tanpa membawa hasil sesuai kehendaknya. Atas kehendak Allah -’Azza wa
Jalla-, beliau berjumpa dengan dua orang pemuda yang gagah-gagah. Nabi ‘Isa
bersalaman kepada mereka. Lalu menyampaikan maksudnya tadi yang tadi gagal.
Nabi
‘Isa berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Ibuku telah meninggal dunia dalam
perjalanan di gunung ini. Untuk itu, tolonglah saya untuk mempersiapkan
pemakaman untuk ibuku ini!”.
Dan
ternyata kedua pemuda yang gagah ini adalah Malaikat Jibril dan Malaikat
Mika’il. Malaikat Jibril -’Alayhissalam- berkata: “Yang bersamaku ini adalah
Malaikat Mika’il, dan saya adalah Malaikat Jibril. Dan ini obat pengawet tubuh
serta kain kafan dari Tuhanmu”.
PARA
BIDADARI CANTIK TURUN DARI SYURGA UNTUK MEMANDIKAN JENAZAH MARYAM BINTI ‘IMRAN
AS!
Pada
saat itu, tiba-tiba saja para bidadari cantik dari jannah (sorga) turun ke
tempat itu yang bertujuan untuk membantu memandikan dan mengkafani jenazah
Maryam binti ‘Imran. Dikisahkan dalam sebuah hadits, Nabi ‘Isa Almasih juga
memandikan jenazah Maryam binti ‘Imran, ibunya itu. Kemudian Malaikat Jibril
menggali kuburan di puncak gunung tersebut, dan kemudian mereka bertiga
mensholati dan mengkuburkan jenazah Maryam di tempat itu.
Kemudian
Nabi ‘Isa Almasih -’Alayhissalam- berdoa kepada Allah -Tabaraka wa Ta’ala-:
“Wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar perkataanku lagi Maha
Mengetahui dimana tempatku. Sedikitpun tidak ada urusanku yang tersembunyi di
hadapan-Mu. Ibuku telah meninggal dunia dan saya tidak mengetahui, di saat ia
meninggal dunia, maka izinkanlah ia berkata kepada saya!”.
Allah
berfirman kepada Nabi ‘Isa Almasih: “Sungguh Aku memberikan izin untukmu”.
Maka
Nabi ‘Isa Almasih pergi ke kuburan Ibu nya. Disana dia berdiri dekat tumpukan
tanah, lantas berkata kepada ibunya dengan suara lembut dan sopan: “Assalamu
‘alayka, wahai ibuku yang kucintai”.
Tiba-tiba
saja, Maryam binti ‘Imran, ibunda Nabi ‘Isa Almasih itu, bisa menjawab ucapan
Nabi ‘Isa, walaupun ia sudah dimakamkan: “Wahai anakku yang kucintai,
kesayanganku dan sebagai biji mataku”.
Nabi
‘Isa kembali bertanya: “Hai ibuku, bagaimana engkau dapat menemukan tempat
pembaringanmu, dan bagaimana pula keadaanmu disisi Tuhanmu?”
Maryam
menjawab: “Tempat pembaringanku adalah sebaik-baik tempat pembaringan, tempat
kembaliku adalah sebaik-baik tempat kembali. Dan masalah aku datang menghadap
Tuhanku, yang aku tau bahwa Dia menerimaku dengan rela tanpa ada murka”.
Nabi
‘Isa bertanya lagi: “Hai ibuku, bagaimana engkau merasakan sakaratul maut?”
Maryam
menjawab: “Demi Allah yang mengutusmu sebagai nabi-Nya dengan sebenar-benarnya,
belum hilang rasa sakratul maut dari tenggorokanku. Begitu juga rasa takutnya
hatiku melihat Malaikat Maut tadi, itu belum sirna dari pelupuk mataku”.
Maka
berakhirlah sudah kisah wafatnya Maryam binti ‘Imran -’Alayhissalam-. Sebab
menurut catatan sejarah Islam, tidak ada lagi percakapan antara Nabi ‘Isa
Almasih dengan Maryam binti ‘Imran (ibunya) setelah percakapan di atas.
Wallahu
a’lam bi showwab.

No comments:
Post a Comment