Tuesday, 25 March 2014

ALY ‘IMRAN; SIMBOL KETAATAN SEBUAH KELUARGA‎

ALY ‘IMRAN; SIMBOL KETAATAN SEBUAH KELUARGA‎
Maryam atau Maryam binti ‘Imran adalah seorang tokoh wanita sholehah yang secara khusus namanya diabadikan oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- dalam salah satu nama surah dalam Al-Qur’an yang Karim. Ia adalah wanita yang berakhlaq mulia juga ahlul ibadah. Ia hidup sezaman dengan nabi Zakariyya -’Alayhissalam- yang tak lain adalah pamannya sendiri. Ia adalah wanita yang diistimewakan. Maryam binti ‘Imran berasal dari keluarga ‘Imran yang diberkahi Allah. Keluarga ‘Imran adalah orang-orang yang sholeh yang tinggal di Nasharat (Nazaret), yakni sebuah tempat di utara Isra’il (Israel).
Ayahanda Maryam bernama ‘Imran bin Yasim, seorang imam di Masjidil Aqsha. Dan ibunda Maryam bernama Hanna binti Yaqudz. Allah -Tabaraka wa Ta’ala- mengabadikan kisah ini di dalam Al-Qur’an Al-Karim pada Qs Ali ‘Imran; Qs Maryam; Qs An-Nisa’; dan Qs At-Tahrim.
Allah -Tabaraka wa Ta’ala- telah berfirman: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imran melebihi segala ummat (di masanya)!”. (QS Ali ‘Imran: 33).

Di serambi Baitul Maqdis, Maryam binti ‘Imran dilahirkan, yang kemudian oleh ibunya diberi nama Maryam yang berarti “Wanita yang rajin beribadah” sebagaimana Allah menerangkan dalam firman-Nya:
“Maka tatkala isteri ‘Imran (Hanna) melahirkan anaknya, diapun berkata: ‘Yaa Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau daripada syaitan yang terkutuk!’”. (QS Ali ‘Imran: 36).
MARYAM AS LAHIR KETIKA ‘IMRAN AS (AYAHNYA) SUDAH WAFAT
Menurut sejarah, ‘Imran dan Hanna yang sama-sama sudah tua dan belum punya anak, suatu hari mereka melihat burung di pohon sedang makan, tiba-tiba saja Hanna berkeinginan memiliki anak. Maka Hanna berdoa kepada Allah agar ia diberi anak, dan ia pun bersumpah, jika doanya dikabulkan, maka anaknya itu akan dipersembahkan kepada Allah diurus di Baitul Maqdis. Dia (Hanna) berdoa untuk anaknya agar tetap dilindungi dari syaitan.
Ketika Hanna hamil Maryam, ‘Imran meninggal dunia. Dan ketika Maryam binti ‘Imran -’Alayhissalam- lahir, maka ibundanya (Hanna) mengadakan undian untuk mengundi siapa orang yang berhak menjadi wali Maryam -’Alayhissalam- untuk diurus di Baitul Maqdis. Sebab memang Maryam binti ‘Imran menjadi rebutan di kalangan Bani Isra’il pada saat itu, karena kesholehan Maryam sendiri. Dan ternyata undian tersebut dimenangkan oleh Zakariyya, pamannya sendiri, sekaligus wali yang memelihara Maryam di Baitul Maqdis.

Maka selanjutnya Maryam (Bunda Maria) diberikan kepada pamannya yang bernama Zakariya (Nabi Zakariyya -’Alayhissalam-). Gadis suci ini dibesarkan di sudut Baitul Maqdis. Dibagian bawah Baitul Maqdis ini terdapat bilik Maryam. Hari-harinya dihabiskan dengan senantiasa beribadah dan berdzikir mengagungkan kekuasaan Allah. Keanehan terjadi setiap kali pamanya mengantarkan makanan didapati telah tersedia makanan di biliknya dengan aneka buah-buahan yang ada disana.
Allah -’Azza wa Jalla- telah berfirman: “Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariyya pengasuhnya. Setiap Zakariyya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, dia dapati makanan di sisinya. Zakariyya berkata: ‘Wahai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”. (QS Ali ‘Imran: 37).
MALAIKAT JIBRIL AS DATANG KEPADA MARYAM BINTI ‘IMRAN AS
Suatu ketika beliau menginjak dewasa, Maryam pulang ke kampungnya di Nasharat. Di sinilah awal beliau mendapat amanah agung mengenai beliau akan mengandung seorang putra yang tak lain adalah Nabi ‘Isa -’Alayhissalam-. Sebagaimana Allah abadikan kisah ini di dalam Al-Qur’an surah Maryam ayat ke 42 & 45:
“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (di masanya)’”. (QS Maryam: 42).
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al-Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (QS Maryam: 45).
Fenomena langka ini kontan membuat Maryam terkejut dan bingung tak terkira. Ditambah penampakan malaikat Jibril -’Alayhissalam- yang menghampirinya. Ini tersurat dalam firman Allah di dalam Surah Maryam ayat 47:
“Maryam berkata: ‘Yaa Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.’ Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): ‘Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: ‘Kun (Jadilah) lalu jadilah ia’”. (QS Maryam: 47).
Maka Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menunjukkan kebesaran-Nya dengan meniupkan ruh melalui Malaikat Jibril ke dalam rahim Maryam.
Allah -Ta’ala- berfirman: “Dan (ingatlah) Maryam binti ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya (perkataan Tuhannya) dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat”. (QS At-Tahrim: 12).
Setelah beberpa saat lamanya, Maryam pun kembali pulang ke Ursalim (Yerusalem) dengan keadaan mengandung. Disinilah bermula keimanan dan ketaqwaan Maryam diuji dengan beragam fitnah yang menghujani dirinya. Masyarakat menjadi memandangnya jelek (buruk), menuduh ia seorang pezinah dll. Lalu dengan petunjuk Allah, beliau pergi ke arah timur menuju satu tempat yang jauh.
Allah -’Azza wa Jalla- berfirman: “Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh”. (QS Maryam: 22).
Sampailah Maryam binti (putri) ‘Imran di suatu tempat di Baitul Laham (Betlehem) sebuah kota Palestina di Tepi Barat (kini), dalam keadaan hamil tua yang tinggal menunggu saat-saat melahirkan dengan keadaan yang lemah dan lelah, namun dengan iman dan ketaqwaanya yang kokoh ia teguh beriman kepada Allah.
Allah -’Azza wa Jalla- berfirman: “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan’”. (QS Maryam: 23).
Allah -Tabaraka wa Ta’ala- tidak membiarkan ia sendiri dalam keadaanya yang begitu mendesak. Allah kembali mengirim bantuanya melalui Malaikat Jibril.
Allah -’Azza wa Jalla- berfirman: “Maka menyerulah dia (Jibril) kepadanya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah kau bersedih hati. Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan di dekatmu sebuah anak sungai (untuk diminum)!’”. (QS Maryam: 24).
MARYAM BINTI ‘IMRAN AS MENGGOYANG-GOYANGKAN POHON KURMA
Dan setelah ia meminumnya, maka ia menggoyang-goyangkan Pohon Korma untuk memakan buah Korma tersebut.
Allah berfirman: “Dan goyanglah pangkal pokok korma itu ke arahmu. niscaya pokok korma itu akan menggugurkan kepadamu korma yang masak ranum! Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu. Maka jika engkau melihat ada seorang anak manusia, katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar di hadapan Tuhan Yang Maha Pengasih, maka sekali-kali tidaklah aku bercakap-cakap, sejak hari ini dengan seorang manusia pun’!”. (QS Maryam: 26).
Maka Nabi ‘Isa Almasih -’Alayhissalam- pun terlahir di tempat itu (di Baitul Laham), yaitu terlahir di bawah pohon Kurma tersebut, dengan kelebihan-kelebihan yang telah dianugerahkan oleh Allah -’Azza wa Jalla- kepadanya. Salah satu kelebihan Nabi ‘Isa -’Alayhissalam- adalah, dia mampu berbicara fasih seperti orang yang sudah besar, padahal dikala itu dia masih bayi yang baru saja terlahir ke dunia.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. (QS Maryam: 33)
Dikisahkan, Maryam binti ‘Imran membawa anaknya itu yang baru saja terlahir (Nabi ‘Isa Almasih -’Alayhissalam-) ke hadapan orang-orang banyak di Baitul Laham (Betlehem), setelah mereka tau bahwa Maryam memiliki anak tanpa ayah (suami). Mereka semua lantas menuduh Maryam berbuat zina.
Allah Ta’ala berfirman: “Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun (Maryam binti ‘Imran), ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezinah’”. (QS Maryam: 27 – 28).
Dengan hujatan-hujatan dari mereka itu, kemudian Maryam menunjuk bayinya. Allah berfirman:
“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?’”. (QS Maryam: 29).
NABI ‘ISA ALMASIH AS YANG BARU SAJA LAHIR BISA BERBICARA DI HADAPAN BANI ISRA’IL
Tiba-tiba saja muncul-lah keajaiban (mukjizat). Nabi ‘Isa Almasih yang masih bayi itu tiba-tiba saja bisa berbicara fasih seperti orang yang sudah besar.
Allah berfirman: “‘Isa berkata: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) sholat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka’”. (QS Maryam: 30 – 32).
Allah berfirman: “Itulah ‘Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya”. (QS Maryam: 34).
Nah setelah Maryam dan Nabi ‘Isa -’Alayhissalam- beberapa lama tinggal di Baitul Laham, tibalah saatnya bagi Maryam dan anaknya (Nabi ‘Isa) untuk hijrah ke negeri Mesir dikarenakan keamanan yang memburuk di negeri kelahiran mereka. Selama 12 tahun lamanya mereka menetap di Mesir, perjuangan membesarkan nabi Isa Al-Masih -’Alayhissalam- di Mesir dilakukannya dengan penuh kesabaran, sampai-sampai Maryam disana bekerja sebagai buruh tani gandum.
Setelah 12 tahun di Mesir, akhirnya mereka kembali lagi ke Tanah Air asalnya, Palestina, dan menetap disana. Di Palestina, Nabi ‘Isa Almasih diangkat menjadi rasul, beliau terus-menerus berdakwah kepada Bani Isra’il sambil diiringi oleh ibunya sendiri, yaitu Maryam binti ‘Imran, dan dibantu oleh kedua belas murid ‘Isa, yaitu Hawariyyun.
WAFATNYA MARYAM BINTI ‘IMRAN AS
Berdasarkan riwayat Wahab bin Munabbih, bahwasanya nenek Idris telah berkata: “Saya telah menemukan sebagian kitab ‘Isa Al-Masih (yang membahas tentang wafatnya Maryam binti ‘Imran -’Alayhissalam-)”.
Berikut ini adalah kisahnya:
Nabi ‘Isa Almasih -’Alayhissalam- berkata kepada ibunya, Maryam binti ‘Imran -’Alayhissalam-: “Hai ibuku, sesungguhnya dunya ini adalah kampung yang akan punah, kampung yang akan hilang. Sesungguhnya akhirat adalah kampung yang langgeng. Untuk itu, wahai Ibuku yang kucintai, marilah kita pergi bersama saya!”.
NABI ‘ISA ALMASIH AS
Kemudian Maryam binti ‘Imran bersama Nabi ‘Isa Almasih, anaknya itu, pergi ke gunung Libanon. Di gunung tersebut mereka berdua berpuasa di siang hari dan malam harinya menegakkan sholat malam. Mereka hanya makan dari dedaunan, pepohonan, dan minum air hujan saja; dan disana mereka tinggal sangat lama.
Suatu hari Nabi ‘Isa Almasih turun gunung menuju ke kota yang bertujuan untuk mencari makanan untuk beriftar (berbuka puasa bersama). Nabi ‘Isa Almasih turun gunung meninggalkan Ibunya, ternyata pada saat itu Ibunya didatangi oleh Malaikat Maut (yang sebelumnya Maryam tidak tahu kalau sesosok itu adalah Malaikat Maut). Malaikat Maut itu mendekati ibunda Nabi ‘Isa Almasih seraya berkata dan mengucapkan salam: “Assalamu ‘alaika, wahai Maryam, orang yang patuh dalam berpuasa dan sholat pada malam harinya”.
Lantas Maryam binti ‘Imran menjawab: “Siapa engkau?! Sungguh sekujur badanku sangat gemetar karena takut mendengar suaramu dan kewibawaanmu”.
Malaikat Maut menjawab: “Saya adalah Malaikat Maut. Saya tidak mengenal rasa belas kasihan terhadap anak-anak kecil, tidak mengenal rasa memuliakan terhadap mereka yang sudah tua atau mengenal karena kebesaran dia. Sebab saya-lah yang bertugas mencabut nyawa makhluk hidup”.
MARYAM AS KESAKITAN KETIKA DICABUT NYAWA OLEH MALAIKAT MAUT
Maka Maryam berkata: “Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang kemari untuk berkunjung kesini ataukah engkau memang akan mencabut nyawaku?”.
Malaikat Maut menjawab: “Bersiap-siaplah engkau mati, wahai Maryam!”.
Maryam berkata kepadanya: “Apakah engkau tidak mengizinkanku, supaya menunggu sampai kedatangan anak kesayanganku, yang menjadi buah hatiku dan penawar atas segala kesusahanku?!”.
Malaikat Maut menjawab dengan tegas: “Saya tidak diperintahkan untuk itu. Dan saya hanyalah sebatas hamba yang takluk kepada perintah Allah. Demi Allah, saya tidak akan mampu mencabut nyawa seekor nyamukpun, kecuali saya sudah diperintahkan oleh Allah. Hal ini supaya saya tidak menyia-nyiakan waktu sedetikpun, sehingga saya mencabut nyawamu di tempat ini juga!”.
Maryam berkata: “Wahai malaikat maut, kalau engkau sudah menerima perintah dari Allah -Ta’ala-. maka tunaikan saja perintah itu!”. Maka Malaikat Maut mendekati Maryam ketika Maryam sedang duduk beribadah, lalu ruh Maryam di cabut dan ia mati.
Nabi ‘Isa Almasih terlambat datang tidak seperti biasanya. Bahkan dia kembali ke tempatnya itu pada saat sudah waktunya masuk waktu ashar akhir (mendekati magrib). Dia membawa sayur-mayur sekaligus kubis. Setelah meletakkan sayur-mayur, kemudian Nabi Isa -’Alayhissalam- ikut sholat di samping Ibunya sampai larut malam.
Tengah malam yang sunyi dan senyap, waktunya berbuka puasa bagi Nabi ‘Isa Almasih. Dia memanggil halus kepada Ibundanya: “Assalamu ‘alaika, wahai ibuku. Sesungguhnya sekarang telah masuk waktu malam, waktunya berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, serta waktu tegaknya orang-orang beribadah kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Mengapa ibu tidak juga berdiri beribadah kepada Allah -Yang Maha Pengasih-?!”.
Maryam binti ‘Imran tetap diam dalam duduknya. Nabi ‘Isa Almasih menyangka ibunya itu duduk karena ketiduran pada saat ia sholat. Nabi ‘Isa Almasih lantas mengulang perkataannya terhadap ibunda nya itu: “Hai ibuku, sesungguhnya dalam tidur memang ada kenikmatan”.
Nabi ‘Isa pun lantas berdiri menghadap kiblat untuk beribadah, dia tidak berbuka puasa karena tidak bersama ibunya. Dia tidak berbuka puasa kecuali bersama-sama ibu nya.
Maka mulai timbul-lah keresahan dalam ibadah Nabi ‘Isa Almasih. Dalam keadaan berdiri dan gelisah, dia tetap memanggil ibunya: “Assalamu ‘alaika, wahai ibuku”, sambil berkata dengan pelan karena ibunya tidak menyahutnya juga.
Kemudian dia melanjutkan ibadahnya sampai terbit fajar. Subuh yang agak kelam ini, dia meletakkan pipinya ke pipi ibunya, sambil dia berseru memanggil ibunya disertai tangisan keras yang disebabka
Dia menyeru keras: “Assalamu’alaika, wahai ibuku! Sungguh malam telah habis dan disambut oleh pagi. Adalah waktu untuk menunaikan kewajiban terhadap Allah!”.
Seketika itu menangis-lah seluruh malaikat di langit; jin-jin di sekitarnya; gunung-gunung pun bergoncang, (sebab kerasnya tangisan Nabi ‘Isa yang tidak mengetahui ibunya telah meninggal dunia).
Kemudian Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berkata kepada para malaikat-Nya: “Hai para malaikat, kenapa kalian semua menangis?”. Para malaikat menjawab: “Yaa Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui. Tentulah Engkau tahu kenapa kami semua menangis”.
Allah berkata: “Ya, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui dan Aku Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba aja ada suara yang berseru kepada Nabi ‘Isa Almasih: “Wahai ‘Isa, angkatlah wajahmu. Sesungguhnya Ibundamu itu sudah meninggal dunia dan Allah -Ta’ala- sudah melipatgandakan pahalamu!”.
Maka menangislah Nabi ‘Isa ketika wajahnya itu masih terangkat sambil merintih.
Sambil menangis, Nabi ‘Isa berkata: “Lalu sekarang siapa lagi yang akan menjadi temanku disaat aku kesepian? Siapa lagi yang akan menemaniku untuk bersendagurau? Siapa lagi sekarang yang menemaniku dalam beribadah kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-?”.
Maka Allah -Subhanahu wa Ta’ala- pun berfirman kepada gunung: “Wahai gunung, berilah ‘Isa nasehat!”. Maka gunungpun memberi ‘Isa nasihat.
Gunung berkata: “Wahai ‘Isa, apa arti kesusahanmu ini, ataukah Allah?, Engkau menghendaki agar ibumu menjadi pendamping yang menggembirakan kamu?!”.
Setelah gunung itu menasehati Nabi ‘Isa, kemudian Nabi ‘Isa turun gunung, singgah dari desa ke desa, untuk mencari tempat tinggal bani Isra’il”.
Nabi ‘Isa berkata kepada Bani Isra’il di sana: “Assalamu’alaikum, wahai Bani Isra’il (Suku Israel)”.
Mereka menjawab: “Kamu siapa? Wajahmu sungguh terang.”
Nabi ‘Isa Almasih menjawab: “Saya adalah Ruh Allah, Nabi ‘Isa Almasih. Ketahuilah, ibuku telah meninggal dunia dalam perjalanan, maka tolonglah saya untuk memandikan, mengkafani dan memakamkan jenazah ibuku. Ia sekarang berada di gunung sana”.
Bani Isra’il menjawab: “Wahai Ruh Allah, sesungguhnya di gunung tersebut banyak sekali ular-ular yang besar dan hewan yang ganas lainnya, yang sama sekali belum pernah dilalui oleh nenek moyang kami atau ayah kami sejak 300 tahun yang lalu”.
Nabi ‘Isa Almasih memaklumi keadaan mereka. Kemudian diapun kembali naik ke atas gunung tanpa membawa hasil sesuai kehendaknya. Atas kehendak Allah -’Azza wa Jalla-, beliau berjumpa dengan dua orang pemuda yang gagah-gagah. Nabi ‘Isa bersalaman kepada mereka. Lalu menyampaikan maksudnya tadi yang tadi gagal.
Nabi ‘Isa berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Ibuku telah meninggal dunia dalam perjalanan di gunung ini. Untuk itu, tolonglah saya untuk mempersiapkan pemakaman untuk ibuku ini!”.
Dan ternyata kedua pemuda yang gagah ini adalah Malaikat Jibril dan Malaikat Mika’il. Malaikat Jibril -’Alayhissalam- berkata: “Yang bersamaku ini adalah Malaikat Mika’il, dan saya adalah Malaikat Jibril. Dan ini obat pengawet tubuh serta kain kafan dari Tuhanmu”.
PARA BIDADARI CANTIK TURUN DARI SYURGA UNTUK MEMANDIKAN JENAZAH MARYAM BINTI ‘IMRAN AS!
Pada saat itu, tiba-tiba saja para bidadari cantik dari jannah (sorga) turun ke tempat itu yang bertujuan untuk membantu memandikan dan mengkafani jenazah Maryam binti ‘Imran. Dikisahkan dalam sebuah hadits, Nabi ‘Isa Almasih juga memandikan jenazah Maryam binti ‘Imran, ibunya itu. Kemudian Malaikat Jibril menggali kuburan di puncak gunung tersebut, dan kemudian mereka bertiga mensholati dan mengkuburkan jenazah Maryam di tempat itu.
Kemudian Nabi ‘Isa Almasih -’Alayhissalam- berdoa kepada Allah -Tabaraka wa Ta’ala-: “Wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar perkataanku lagi Maha Mengetahui dimana tempatku. Sedikitpun tidak ada urusanku yang tersembunyi di hadapan-Mu. Ibuku telah meninggal dunia dan saya tidak mengetahui, di saat ia meninggal dunia, maka izinkanlah ia berkata kepada saya!”.
Allah berfirman kepada Nabi ‘Isa Almasih: “Sungguh Aku memberikan izin untukmu”.
Maka Nabi ‘Isa Almasih pergi ke kuburan Ibu nya. Disana dia berdiri dekat tumpukan tanah, lantas berkata kepada ibunya dengan suara lembut dan sopan: “Assalamu ‘alayka, wahai ibuku yang kucintai”.
Tiba-tiba saja, Maryam binti ‘Imran, ibunda Nabi ‘Isa Almasih itu, bisa menjawab ucapan Nabi ‘Isa, walaupun ia sudah dimakamkan: “Wahai anakku yang kucintai, kesayanganku dan sebagai biji mataku”.
Nabi ‘Isa kembali bertanya: “Hai ibuku, bagaimana engkau dapat menemukan tempat pembaringanmu, dan bagaimana pula keadaanmu disisi Tuhanmu?”
Maryam menjawab: “Tempat pembaringanku adalah sebaik-baik tempat pembaringan, tempat kembaliku adalah sebaik-baik tempat kembali. Dan masalah aku datang menghadap Tuhanku, yang aku tau bahwa Dia menerimaku dengan rela tanpa ada murka”.
Nabi ‘Isa bertanya lagi: “Hai ibuku, bagaimana engkau merasakan sakaratul maut?”
Maryam menjawab: “Demi Allah yang mengutusmu sebagai nabi-Nya dengan sebenar-benarnya, belum hilang rasa sakratul maut dari tenggorokanku. Begitu juga rasa takutnya hatiku melihat Malaikat Maut tadi, itu belum sirna dari pelupuk mataku”.
Maka berakhirlah sudah kisah wafatnya Maryam binti ‘Imran -’Alayhissalam-. Sebab menurut catatan sejarah Islam, tidak ada lagi percakapan antara Nabi ‘Isa Almasih dengan Maryam binti ‘Imran (ibunya) setelah percakapan di atas.
Wallahu a’lam bi showwab.

No comments: