Saturday, 8 March 2014

HIKMAH PERBEDAAN ROKA'AT PADA SHALAT LIMA WAKTU

HIKMAH PERBEDAAN ROKA'AT PADA SHALAT LIMA WAKTU
Kita sebagai manusia dengan keterbatasan tidak mungkin mengetahui dan mengungkap seluruh hikmah yang terkandung dalam apa yang Allah syariatkan dan tetapkan. Apa yang kita ketahui dari hikmah Allah hanyalah sebagian kecil, dan yang tidak kita ketahui jauh lebih besar, “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra`: 85).
Allah adalah al-Hakim, pemilik hikmah, tidak ada sesuatu yang Dia syariatkan kecuali ia pasti mengandung hikmah, tidak ada sesuatu dari Allah yang sia-sia dan tidak berguna karena hal itu bertentangan dengan hikmahNya.
Sekecil apapun dari hikmah Allah dalam sesuatu yang bisa kita ketahui, hal itu sudah lebih dari cukup untuk mendorong dan memacu kita untuk melakukan sesuatu tersebut karena pengetahuan tentang kebaikan sesuatu melecut orang untuk melakukannya.

Setiap perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala mengandung kebaikan untuk hamba-hamba-Nya. Memperhambakan diri kepada Allah bermanfaat untuk kepentingan dan keperluan yang menyembah bukan yang disembah. “Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyaat: 57-58)
Penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menjadi tujuan hidup dan tujuan keberadaan kita di dunia, bukanlah suatu penghambaan yang memberi keuntungan bagi yang disembah, tetapi penghambaan yang mendatangkan kebahagiaan bagi yang menyembah. Penghambaan yang memberikan kekuatan bagi yang menyembahnya.
وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40)
Imam Qatadah berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu kepada kalian bukan karena berhajat padanya, dan tidak melarang sesuatu atas kalian karena bakhil. Akan tetapi Dia memerintahkan sesuatu pada kalian karena di dalamnya terdapat kemaslahatan untuk kalian, dan melarang sesuatu karena di dalamnya terdapat mafsadat (kerusakan). Oleh karenanya bukan hanya satu tempat di dalam al-Qur’an yang memerintahkan berbuat perbaikan dan melarang berbuat kerusakan.”
Ibadah shalat yang merupakan ibadah teragung dalam Islam termasuk ibadah yang kaya dengan kandungan hikmah kebaikan bagi orang yang melaksanakannya. Siapa pun yang mengetahui dan pernah merasakannya mengakui hal itu, oleh karena itu dia tidak akan rela meninggalkannya, sebaliknya orang yang tidak pernah mengetahui akan berkata, untuk apa shalat? Dengan nada pengingkaran. Begitu juga dalam perbedaan roka’at dalam shalat 5 waktu.

Ada beberapa hikmah dari perbedaan roka’at pada sholat 5 waktu:

1. Sholat subuh dikerjakan 2 rokaat, hikmahnya adalah karena sholat shubuh dikerjakan setelah bangun dari tidur, dimana orang biasanya masih malas untuk melakukan sesuatu.

2. Sholat dhuhur dan ashar dikerjakan 4 roka’at, hikmahnya adalah karena kedua sholat tersebut dikerjakan pada saat kemalasan yang ditimbulkan setelah tidur malam sudah hilang, sehingga energinya sudah pulih kembali dan sudah semangat untuk mengerjakan aktifitas. 

3. Sholat maghrib dikerjakan 3 roka’at, hikmahnya adalah karena sholat maghrib dikerjakan pada waktu penghujung hari/ganjil siang hari (witrun nahar) sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan sayyidah A’isyah rodhiyallohu ‘anha ;

فُرِضَتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَالْحَضَرِ رَكْعَتَيْنِ، فَلَمَّا أَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ، وَتُرِكَتْ صَلَاةُ الْفَجْرِ لِطُولِ الْقِرَاءَةِ، وَصَلَاةُ الْمَغْرِبِ لِأَنَّهَا وِتْرُ النَّهَارِ

“Pada mulanya diwajibkan shalat dua rakaat untuk orang musafir dan muqim. Setelah Rasulullah menetap di Madinah shalat orang yang mukim ditambah dua rakaat, shalat fajar tetap seperti biasa karena panjang bacaannya dan begitu juga shalat maghrib karena dilaksanakan pada penghujung hari.” (Shohih Ibnu Hibban, no.2738)

4.Sholat isya’ dikerjakan 4 roka’at, hikmahnya adalah karena biasanya pada malam hari seseorang sudah tidak terlalu memiliki kesibukan sekaligus mengganti kekurangan sholat dimalam hari, sebab dimalam hari hanya diwajibkan 2 kali sholat, sedangkan disiang hari 3 kali sholat.

Wallohu a’lam.

Referensi :
1. Hasyiyah Al-Bujairomi Alal Khotib, Juz : 1  Hal : 380
2. Hikmatut Tasyri' Wa Falsafatuhu, Juz : 1  Hal : 85


No comments: