KHUTBAH IDUL FITRI
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
وَبَرَكَاتُهُ
اللهُ اَكْبَرْ -
اللهُ اَكْبَر- اللهُ اَكْبَرْ.
اللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ . اللهُ اَكْبَرْ ولله
الحمد
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ اَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
, أَمَّا بَعْدُ : فَيَاعِبَادَ
اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Kaum muslimin wal muslimah
yang dirahmati oleh Allah
Ramadhan telah berlalu. Telah
tiba kemenangan dan kebahagiaan. Berbahagialah mereka, hamba-hamba Allah yang
telah menahan lapar karena Allah, menahan dahaga di tengah terik panasnya
matahari...karena Allah, menahan syahwatnya karena Allah. Berbahagialah mereka
yang melawan kantuknya untuk melantunkan firman-firmanNya, menahan kantuknya, menahan
letihnya kaki dalam sholat malamnya karena mengharapkan keridhoan Allah, menyisihkan
sebagian hartanya untuk diberikan kepada para faqir miskin, mengurangi beban
mereka, memberikan secercah kebahagiaan kepada semuanya karena Allah. Berbahagialah mereka yang
telah meneteskan air matanya karena mengharapkan ampunanNya di tengah malam
tatkala mata-mata manusia pulas terlelap.
Semoga setetes air mata
yang mereka alirkan karena takut kepada Yang Maha Esa, karena berharap kepada
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, merupakan sebab diampuni seluruh dosa
mereka,sebab masuknya mereka ke dalam surga Allah.
Hari raya Idul Adha
didahului dengan ibadah haji yang agung, didahului dengan wuquf di padang
arofah dengan segala bentuk penghinaan diri kehadapan Allah, penuh doa kepada
Allah dengan dua lembar kain putih disertai peluh keringat dan rambut dan tubuh
yang berdebu, setelah itu perayaan hari raya yang dibuka dengan sholat idul
adha di awal hari. Demikian pula hari raya idhul fithri, yang didahului dengan
menahan lapar dan dahaga sebulan penuh, didahului dengan sholat tarwih dan
qiyamul lail, lalu setelah itu bergembira di hari raya dengan dibuka dengan
sholat Idhul Fithri. Inilah dua keistimewaan hari raya Islam yang jauh berbeda
dengan perayaan-perayaan kaum musyrikin dan jahiliyah dan hari raya mereka
tanpa didahului ibadah dan murni hanya murni berisi kesenangan duniawi, dan
bahkan kebanyakannya hanyalah murni kemaksiatan dan pengumbaran syahwat.
Kita bersyukur pada Allah
yang mengizinkan kita untuk sujud dan menghinakan diri kita di pagi hari yang
mulia ini, kita benar-benar berprasangka baik kepada Allah yang telah
mengizinkan kita berpuasa, mengizinkan kita untuk sholat tarawih, mengizinkan
kita untuk qiyamul lail, mengizinkan kita untuk membasahi lidah kita dengan
lantunan ayat-ayatNya, yang telah mengizinkan kita untuk sholat di pagi hari
ini, kita berprasangka baik pula kepadaNya bahwa Allah tidak akan melalaikan
amalan hamba-hambaNya.
Kita sadar bahwa amalan
kita selama bulan Ramadhan penuh dengan kekurangan dan kesalahan, akan tetapi
kita sangat yakin bahwa Tuhan kita, Pencipta kita, Pemberi hidayah kepada kita,
adalah Dzat Yang Maha baik, Dzat yang Maha memaafkan. Kita sadar bahwa amalan
kita selama bulan Ramadhan penuh dengan kekurangan dan kesalahan, akan tetapi
kita sangat yakin bahwa Tuhan kita, Pencipta kita, Pemberi hidayah kepada kita,
adalah Dzat Yang Maha baik, Dzat yang Maha memaafkan, Dzat yang maha Penyayang,
Dzat yang Maha Pengampun.
Oleh karenanya di atas
mimbar yang mulia ini kita berdoa kepada Allah dengan bertawassul dengan
nama-namanya Yang Maha Indah, dengan sifat-sifatNya yang Maha Agung, agar Allah
menerima seluruh ibadah kita, agar para hadirin sekalian di pagi hari ini
diampuni dosa-dosanya oleh Allah, agar para hadirin, bapak-bapak dan para ibu
sekalian dimasukkan ke dalam surga Allah, dijauhkan dari nerakannya Allah. Aamiin
yaa Robbal 'aalamiin.
اللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ . اللهُ اَكْبَرْ ولله
الحمد
Ma'aasyiral muslimin wal
muslimah rahimakumullah
Pada hari ini orang-orang yang telah berpuasa
berhak untuk bergembira. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
رَبِّهِ لِقَاءِ عَنْدِ وَفَرْحَةٌ فِطْرِهِ عِنْدَ فَرْحَةٌ فَرْحَتَانِ لِلصَّائِمِ
"Bagi orang yang berpuasa dua kegembiraan, kegembiraan
tatkala berbukanya, dan kegembiraan tatkala bertemu dengan Robnya"
Sebagian ulama berpendapat
bahwa kegembiraan pertama tidak hanya terbatas pada tatkala ia berbuka puasa
harian, akan termasuk juga adalah kegembiraan tatkala berbuka di hari raya.
Kita bersenang-senang pada hari ini dengan menunjukkan kegembiraan, akan tetapi
jangan sampai kegembiraan ini dikotori dengan berbagai macam kemaksiatan.
Sebagian orang menjadikan hari raya sebagai awal hari kemaksiatan, seakan-akan
belenggu Ramadhan telah terlepas darinya. Ia bisa bebas kembali melampiaskan
syahwatnya. Sungguh celaka orang yang tidak mengenal Robnya kecuali hanya bulan
Ramadhan saja, ia tidak beribadah kepada Allah kecuali di bulan Ramadhan,
setelah Ramadhan berlalu maka iapun melupakan Robnya. Hendaknya ia sadar bahwa
Tuhan bulan Ramadhan Dialah juga Tuhan
bulan-bulan yang lainnya. Hendaknya ia ingat bahwa Tuhan yang telah
memerintahkan ia untuk beribadah di bulan Ramadhan Dialah Tuhan yang telah
memerintahkan untuk menyembahnya di bulan-bulan yang lainnya.
Tatkala Nabi shallallahu
'alaihi wasallam berkhutbah 'ied, beliau mengkhususkan sebuah nasehat untuk
kalian wahai kaum Hawa. Jabir bin Abdillah radhiallahu
'anhu beliau berkata :
"Aku bersama Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam menghadiri sholat pada hari raya, maka beliau memulai dengan
sholat sebelu khutbah tanpa adzan dan iqomah, lalu beliau bertelekan kepada
Bilal dan beliau memerintahkan untuk bertakwa dan mendorong untuk ta'at kepada
Allah dan beliau menasehati orang-orang dan mengingatkan mereka”. Setelah
itu beliau berjalan menuju para wanita lalu beliau menasehati mereka dan
mengingatkan mereka, beliau berkata : "Hendaknya kalian bersedekah,
sesungguhnya kalian adalah mayoritas pembakar neraka Jahannam".
Maka diantara para wanita berdirilah seorang wanita yang kedua pipinya ada
perubahan dan ada kehitaman dan ia berkata : "Kenapa wahai
Rasulullah?". Maka Nabi berkata : "Karena kalian sering mengeluh dan
banyak mengingkari kebaikan suami". Maka para wanitapun bersedekah dari
perhiasan mereka, mereka melemparkan perhiasan mereka ke baju Bilal, berupa
anting-anting dan cincin-cincin mereka".
Dalam riwayat Abu Sa'id Al-Khudri radhiallahu 'anhu Rasulullah berkata : الْعَشِيْرَ وَتَكْفُرْنَ اللَّعْنَ تُكْثِرْنَ “Karena kalian banyak melaknat dan kalian banyak mengingkari kebaikan suami"
Dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu 'anhu Nabi berkata kepada mereka : الإِسْتِغْفَارَ وَأَكْثِرْنَ تَصَدَّقْنَ النِّسَاءِ مَعْشَرَ يَا "Wahai para wanita bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah beristighfar kepada Allah" .
Karenanya wahai para wanita, janganlah kalian melupakan kebaikan suami kalian, janganlah kalian suka mengeluh kepada suami kalian atau mengeluhkan tentang suami kalian, sesungguhnya kehidupan dunia penuh dengan kepayahan dan kesulitan dan tidak akan pernah ada kesempurnaan. Ingatlah suami kalian adalah surga atau neraka kalian sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
Dalam riwayat Abu Sa'id Al-Khudri radhiallahu 'anhu Rasulullah berkata : الْعَشِيْرَ وَتَكْفُرْنَ اللَّعْنَ تُكْثِرْنَ “Karena kalian banyak melaknat dan kalian banyak mengingkari kebaikan suami"
Dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu 'anhu Nabi berkata kepada mereka : الإِسْتِغْفَارَ وَأَكْثِرْنَ تَصَدَّقْنَ النِّسَاءِ مَعْشَرَ يَا "Wahai para wanita bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah beristighfar kepada Allah" .
Karenanya wahai para wanita, janganlah kalian melupakan kebaikan suami kalian, janganlah kalian suka mengeluh kepada suami kalian atau mengeluhkan tentang suami kalian, sesungguhnya kehidupan dunia penuh dengan kepayahan dan kesulitan dan tidak akan pernah ada kesempurnaan. Ingatlah suami kalian adalah surga atau neraka kalian sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
نَارُكِ أَوْ جَنَّتُكِ
فَإِنَّهُ
"Sesungguhnya
suamimu adalah surgamu atau nerakamu".
Jika suamimu ridho dan suka dengan sikapmu, bahagia tatkala memandangmu, mendapatimu adalah seorang wanita yang sabar yang tidak suka mengeluh maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu surga. Akan tetapi jika perkaranya adalah sebaliknya, engkau adalah seorang istri yang suka mengeluh, lupa dengan kebaikan suamimu, maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu neraka Jahannam!
Ingatlah jika engkau telah menikah maka engkau wajib berbakti kepada suamimu sebagaimana engkau wajib berbakti kepada kedua orang tuamu. Jika engkau -wahai wanita sholehah- merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan hati ayah dan ibumu, maka demikian pula hendaknya engkau merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan dan membahagiakan suamimu. Sebaliknya, jika engkau merasa berdosa besar tatkala membentak dan mengangkat suara di hadapan ayah dan ibumu, maka hendaknya engkau juga merasa berdosa tatkala mengangkat suara dan membentak suami.
اللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ . اللهُ اَكْبَرْ ولله الحمد
Jika suamimu ridho dan suka dengan sikapmu, bahagia tatkala memandangmu, mendapatimu adalah seorang wanita yang sabar yang tidak suka mengeluh maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu surga. Akan tetapi jika perkaranya adalah sebaliknya, engkau adalah seorang istri yang suka mengeluh, lupa dengan kebaikan suamimu, maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu neraka Jahannam!
Ingatlah jika engkau telah menikah maka engkau wajib berbakti kepada suamimu sebagaimana engkau wajib berbakti kepada kedua orang tuamu. Jika engkau -wahai wanita sholehah- merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan hati ayah dan ibumu, maka demikian pula hendaknya engkau merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan dan membahagiakan suamimu. Sebaliknya, jika engkau merasa berdosa besar tatkala membentak dan mengangkat suara di hadapan ayah dan ibumu, maka hendaknya engkau juga merasa berdosa tatkala mengangkat suara dan membentak suami.
اللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ . اللهُ اَكْبَرْ ولله الحمد
Ramadhan telah berlalu, lembaran baru kehidupan telah kita buka
kembali, catatan dan coretan hitam telah bersih, tantangan baru kembali hadir. Belenggu-belenggu
syaitan telah terlepas. Sebagaimana orang-orang yang berpuasa pada hari ini
bergembira -karena meraih ampunan Allah-, maka demikian juga para pelaku
maksiat juga ikut bergembira dengan berlalunya bulan Ramadhan. Para sahabat
mereka dari kalangan syaitan telah terlepas belenggunya dan siap bekerjasama
lagi dengan mereka. Para pelaku kemaksiatan kembali leluasa melancarkan godaan
mereka.
Sesungguhnya bulan Ramadhan ibarat pesantren kilat yang telah memperbaiki akhlak kita sebulan penuh, telah menggembleng kita untuk kuat sholat malam, mengajari kita untuk meninggalkan syahwat dan hawa nafsu karena Allah, maka sekarang tiba saatnya kita berhadapan dengan ujian. Apakah di sebelas bulan ke depan kita masih bisa menunjukan nilai-nilai Ramadhan?, ataukah hilang dan lenyaplah nilai-nilai Ramadhan tersebut? Apakah sholat lima waktu secara berjama'ah di masjid masih bisa kita jaga? Apakah sholat malam -meskipun hanya sholat witir tiga raka'at atau bahkan hanya satu raka'at- masih bisa kita jaga? Lembaran-lembaran Al-Qur'an yang selama ini menemani kita di bulan Ramadhan apakah masih bisa tetap menemani kita di sebelas bulan ke depan?
Sungguh merupakah keindahan tatkala seseorang sebelum Ramadhan bergelimang dengan kemaksiatan lalu iapun berpuasa dan setelah bulan Ramadhan berubahlah dia menjadi seorang yang taat. Kemaksiatan yang selama ini merupakan kebiasaannya pun ia tinggalkan. Sholat yang selama ini malas dikerjakannya menjadi rajin untuk ditegakan. Setelah Ramadhan jadilah kita orang yang lebih baik, lebih baik bagi istri kita, lebih baik bagi suami kita, lebih baik bagi anak-anak kita, lebih berbakti kepada orang tua kita, menyenangkan orang sekitar kita. Sebagaimana kupu-kupu membantu penyerbukan tanaman maka jadilah kita bermanfaat bagi orang lain.
Ramadhan harus memberikan perubahan kita ke arah yang lebih baik. Sungguh kita tidak tahu apakah kita masih bisa bertemu dengan Ramadhan-ramadhan tahun berikutnya?, sungguh kita tidak tahu apakah kita masih bisa sujud dan ruku', bersimpuh dan menangis lagi di malam-malam bulan Ramadhan?, kita tidak tahu apakah kita masih bisa bertemu dengan malam Laialatul Qodar yang lebih baik dari seribu bulan?. Ramadhan tahun ini harus memberikan kehidupan baru bagi kita, harus menjadi motivasi bagi kita dalam beraktivitas kebaikan.
Sesungguhnya bulan Ramadhan ibarat pesantren kilat yang telah memperbaiki akhlak kita sebulan penuh, telah menggembleng kita untuk kuat sholat malam, mengajari kita untuk meninggalkan syahwat dan hawa nafsu karena Allah, maka sekarang tiba saatnya kita berhadapan dengan ujian. Apakah di sebelas bulan ke depan kita masih bisa menunjukan nilai-nilai Ramadhan?, ataukah hilang dan lenyaplah nilai-nilai Ramadhan tersebut? Apakah sholat lima waktu secara berjama'ah di masjid masih bisa kita jaga? Apakah sholat malam -meskipun hanya sholat witir tiga raka'at atau bahkan hanya satu raka'at- masih bisa kita jaga? Lembaran-lembaran Al-Qur'an yang selama ini menemani kita di bulan Ramadhan apakah masih bisa tetap menemani kita di sebelas bulan ke depan?
Sungguh merupakah keindahan tatkala seseorang sebelum Ramadhan bergelimang dengan kemaksiatan lalu iapun berpuasa dan setelah bulan Ramadhan berubahlah dia menjadi seorang yang taat. Kemaksiatan yang selama ini merupakan kebiasaannya pun ia tinggalkan. Sholat yang selama ini malas dikerjakannya menjadi rajin untuk ditegakan. Setelah Ramadhan jadilah kita orang yang lebih baik, lebih baik bagi istri kita, lebih baik bagi suami kita, lebih baik bagi anak-anak kita, lebih berbakti kepada orang tua kita, menyenangkan orang sekitar kita. Sebagaimana kupu-kupu membantu penyerbukan tanaman maka jadilah kita bermanfaat bagi orang lain.
Ramadhan harus memberikan perubahan kita ke arah yang lebih baik. Sungguh kita tidak tahu apakah kita masih bisa bertemu dengan Ramadhan-ramadhan tahun berikutnya?, sungguh kita tidak tahu apakah kita masih bisa sujud dan ruku', bersimpuh dan menangis lagi di malam-malam bulan Ramadhan?, kita tidak tahu apakah kita masih bisa bertemu dengan malam Laialatul Qodar yang lebih baik dari seribu bulan?. Ramadhan tahun ini harus memberikan kehidupan baru bagi kita, harus menjadi motivasi bagi kita dalam beraktivitas kebaikan.
أعُوْذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا
أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ
الْأَبْتَرُ
بَارَكَ
اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه
مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ
هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
______________________________________________________________________
اللهُ اَكْبَرْ اللهُ
اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ . اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ
اللهُ اَكْبَرْ . اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا
وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً . لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ
اللهُ اَكْبَرْ . اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
الحمد لله حمدا كما امر.
اشهد ان لا اله ا لاّ الله وحده لا شر يك له . واشهد انّ سيّدنا محمّدا عبده
ورسوله . اللّهمّ صلّ وسلّــم على سـيّدنا محمّد . وعلى ال سيّدنا محمّد
(امّا بعـــد)
ا
يّهاالنّاس, اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ . فقال الله تعالى, انّ الله وملا ئكته يصلّون على
النّبيّ ياا يّهاالذين امنوا صلّوا عليه وسلّم تسليما. اَللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ . وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ
يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ . وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ .
رَبَّنَا غْفِرْ لَنَا
ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْعَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ .
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً . وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ النَّار .
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ
اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ . وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ . وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَر

No comments:
Post a Comment