Hukum
pajak dalam perspektif syariah (fiqh) Islam. Ulama klasik dan kontemporer
berbeda pendapat dalam menyikapi hukum pajak. Apakah boleh (halal) atau haram.
Dengan berbagai landasan hukum dalil Quran hadits yang mendasari masing-masing
pendapat.
PENDAPAT
YANG MENHALALKAN PAJAK.
Jumhur
atau mayoritas ulama berpendapat bahwa pungutan pajak itu halal. Baik ulama
mutaqaddimin (ulama klasik), maupun ulama muta'akhirin (kontemporer).
A.
ULAMA KLASIK [MUTAQADDIMIN]
Madzhab
Syafi'i: Imam Ghazali dalam kitab المستصفى
من علم الأصول
(I/426) menyatakan bahwa memungut uang selain zakat pada rakyat diperbolehkan
apabila diperlukan dan kas di Baitul Mal tidak lagi mencukupi untuk kebutuhan
negara baik untuk perang atau lainnya. Akan tetapi kalau masih ada dana di
Baitul Mal, maka tidak boleh.
Madzhab
Hanafi: Muhammad Umaim Al-Barkati dalam kitab قواعد
الفقه dan kitab حاشية
رد المحتارmenyebut pajak dengan naibah (jamak, nawaib). Dia
berpendapat bahwa naibah boleh kalau memang dibutuhkan untuk keperluan umum
atau keperluan perang.
Madzhab
Maliki: Al Qurtubi dalam kitab الجامع
لأحكام القرآن
(II/242) mengatakan bahwa ulama sepakat atas bolehnya menarik pungutan selain
zakat apabila dibutuhkan. Berdasarkan Al Quran وَآَتَى
الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ
(Al Baqarah 2:177).
Madzhab
Hanbali: Ulama madzhab Hanbali juga membolehkan pengumpulan pajak yang mereka
sebut dengan al-kalf as-sulthaniyah ( الكلف
السلطانية) . Bahkan
mereka menganggapnya sebagai jihad dengan harta. Ibnu Taimiyah dalam الفتاوى menganggap pajak yang diambil dari orang kaya merupakan jihad
harta. Ibnu menyatakan:
وإذا
طلب منهم شيئًا يؤخذ على أموالهم ورءوسهم، مثل الكلف السلطانية التي توضع عليهم كلهم،
إما على عدد رءوسهم، أو على عدد دوابهم، أو على أكثر من الخراج الواجب بالشرع، أو تؤخذ
منهم الكلف التي أحدثت في غير الأجناس الشرعية، كما يُوضع على المتابعين للطعام والثياب
والدواب والفاكهة وغير ذلك،
يُؤخذ
منهم إذا باعوا، ويُؤخذ تارة من البائعين، وتارة من المشترين
B.)
ULAMA KONTEMPORER [MUTAAKHIRIN]
Ulama
fiqih kontemporer yang membolehkan pajak antara lain Rashid Ridha, Mahmud
Syaltut, Abu Zahrah dan Yusuf Qardhawi dengan argumen sebagai berikut:
1.
Rashid Ridha dalam Tafsir Al-Manar (تفسير
المنار) V/39 dalam
menafsiri Quran surat An-Nisai 29 demikian:
ذلك بأن
الإسلام يجعل مال كل فرد من أفراد المتبعين له مالا لأمته كلها، مع احترام الحيازة
والملكية، وحفظ حقوقها؛ فهو يوجب على كل ذي مال كثير حقوقًا معينة لصالح العامة، كما
يوجب عليه وعلى صاحب المال القليل حقوقًا أخرى لذوي الاضطرار من الأمة، ويحث فوق ذلك
على البر والإحسان
Arti
kesimpulan: ... adanya kewajiban bagi orang kaya untuk memberikan sebagian
hartanya (dalam bentuk zakat) untuk kemaslahatan umum, dan mereka hendaknya
dimotivasi untuk mereka mengeluarkan uang (di luar zakat) untuk kebaikan.
2.
Yusuf Qardhawi (Qaradawi) dalam kitab Fiqhuz Zakah (II/1077) menyatakan:
ومن الطبيعي
جدًّا أن زيادة عدد السكان تحتاج إلى زيادة في الإنفاق، كل هذا يفتقر إلى مقادير كبيرة
من المال، قد تعجز الدولة إيجاده وتوفيره ولا يكون سبيل إلى ذلك إلا بفرض الضرائب؛
وعندها تكون هذه الضرائب نوعًا من الجهاد بالمال، والمسلم مأمور بذلك؛ ليحمي دولته
ويقوي أمته ويحمي دينه وماله وعرضه
Arti
kesempulan: Negara terkadang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan
pembangunannya. Dan tidak ada jalan lain selain dengan mengumpulkan pajak. Dan
itu termasuk jihad harta.
3.
Mahmud Syaltut, mufti Al-Azhar Mesir dalam kitab Al-Fatawa al-Kubra (الفتاوى
الكبرى) menyatakan
bahwa:
جاز له
وقد يجب، أن يضع عليهم من الضرائب ما يحقق به تلك المصالح دون إرهاق أو إعنات
Artinya:
... boleh bagi hakim memungut pajak dari orang kaya untuk kemaslahatan dengan
tanpa berlebihan.
4.
Muhammad Abu Zahrah membolehkan pajak disamping zakat. Abu Zahrah lebih jauh
menyatakan bahwa kalau pajak tidak terdapat pada era Nabi itu disebabkan karena
pada masa itu solidaritas tolong menolong antar umat Islam dan semangat
berinfak di luar zakat sangatlah tinggi. Dan persaudaraan yang terjalinantara
kaum Anshar dan Muhajirin berhasil mempersempit jarak sosial dan ekonomi umat
pada saat itu. Sehingga tidak diperlukan campur tangan negara.
#KESIMPULAN
HUKUM PAJAK MENURUT ISLAM#
Pajak
hukumnya HALAL menurut pandangan mayoritas (jumhur) ulama. Baik ulama klasik
maupun kontemporer.
Adapun
yang mengharamkan pajak umumnya didominasi ulama Wahabi dengan argumen bahwa
pajak itu sama dengan mukus yang jelas dicela oleh Nabi.
Namun,
menurut jumhur ulama, pajak bukanlah mukus.
Dan
karena itu, haramnya mukus tidak bisa dijadikan dalil analogi (qiyas) dengan
haramnya pajak yang berlaku saat ini.
::PENGERTIAN
MUKUS DAN MAKIS::
Secara
etimologis, mukus bermakna pengurangan atau pendzaliman.
Definisi
mukus dan makis secara terminologis adalah:
الضريبة
التي يأخذها الماكس وهو العشار -ثم قال- وفي شرح السنة: صاحب المكس هو الذي يأخذ من
التجار إذا مروا به مكسا باسم العشر
Artinya:
Mukus adalah pajak atau pungutan (uang) yang diambil oleh makis (pemungut mukus
atau kolektor retribusi) dari para pedagang yang lewat.
Menurut
Imam Nawawi, mukus hukumnya haram.
Berdasar
hadits sahih riwayat Muslim:
والذي
نفسي بيده لقد تابت توبة لو تابها صاحب مكس لغفر له
Arti
kesimpulan: seorang perempuan pezina yang betul-betul bertobat itu lebih baik
darilpada pemungut mukus.
Apakah
pajak atau pungutan yang umum terjadi saat ini di Indonesia atau di negara lain
termasuk mukus atau tidak?
Menurut
Yusuf Qardhawi, pajak yang sekarang berlaku bukan termasuk mukus. Al-Haitsami
dalam مجمع الزوائد menyatakan bahwa makis atau orang yang melakukan mukus adalah:
يُحمل
صاحب المكس على الموظف العامل الذي يجبي الزكاة فيظلم في عمله، ويتعدى على أرباب الأموال
فيأخذ منهم ما ليس من حقه، أو يقل من المال الذي جمعه مما هو حق للفقراء وسائر المستحقين،
وقد يدل لذلك ما جاء عن بعض الرواة من تفسير "العاشر" بالذي يأخذ الصدقة
على غير حقها
Artinya:
Pelaku mukus adalah (a) petugas yang mengumpulkan zakat dan menyelewengkannya
yaitu dengan memungut uang melebihi hak pembayar zakat; atau (b) atau
mengurangi uang yang semestinya jadi hak penerima zakat. (Al-Haitsami, Mu'jamuz
Zawa'id, III/87).
Wallahu
a’lam.

No comments:
Post a Comment