Friday, 11 March 2016

PERBADAAN ANTARA DAKWAH DAN TA'LIM

Ketika telinga kita mendengar kata Da’wah, mata melihat tulisan Da’wah, benak kita membayangkan bahwa perkara ini pasti yang berkaitan dengan Khotbah, Ceramah, dan hal-hal yang ilmiah?
Da’wah ini artinya mengajak, artinya siapapun yang mengajak kepada Allah dia telah melakukan da’wah, berbeda dengan Ta’lim yang artinya mengajar, ini memang perlu keahlian dan ilmu yang dipersyaratkan.
Pengertian Dakwah
Pengertian dakwah menurut bahasa; dakwah berasal dari bahasa Arab yakni دعا يدعوادعوة  (da’a - yad’u - da'watan). Kata dakwah tersebut merupakan ism masdar dari kata da’ayang dalam Ensiklopedia Islam diartikan sebagai “ajakan kepada Islam. Kata da’a dalam al-Quran, terulang sebanyak 5 kali, sedangkan kata yad’u terulang sebanyak 8 kali dan katadakwah terulang sebanyak 4 kali.
Kata da’a pertama kali dipakai dalam al-Quran dengan arti mengadu (meminta pertolongan kepada Allah) yang pelakunya adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam. Lalu kata ini berarti memohon pertolongann kepada Tuhan yang pelakunya adalah manusia (dalam arti umum). Setelah itu, kata da’a berarti menyeru kepada Allah yang pelakunya adalah kaum Muslimin.
Kemudian kata yad’u, pertama kali dipakai dalam al-Quran dengan arti mengajak ke neraka yang pelakunya adalah syaitan. Lalu kata itu berarti mengajak ke surga yang pelakunya adalah Allah, bahkan dalam ayat lain ditemukan bahwa kata yad’u dipakai bersama untuk mengajak ke neraka yang pelakunya orang-orang musyrik.
Sedangkan kata dakwah atau da’watan sendiri, pertama kali digunakan dalam al-Quran dengan arti seruan yang dilakukan oleh para Rasul Allah itu tidak berkenan kepada obyeknya. Namun kemudian kata itu berarti panggilan yang juga disertai bentuk fi’il (da’akum) dan kali ini panggilan akan terwujud karena Tuhan yang memanggil. Lalu kata itu berarti permohonan yang digunakan dalam bentuk doa kepada Tuhan dan Dia menjanjikan akan mengabulkannya.
Berdasarkan pandangan tersebut, maka pengertian dakwah menurut istilah adalah menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu, dengan proses yang berkesinambungan dan ditangani oleh para USAHA DAKWAH. Hal ini dikarenakan Islam adalah dakwah, artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Maka Da’wah ini adalah tugas semua orang Islam yang sudah ada kalimat Laa Ilaaha Illallaah.
Pengertian Ta’lim.
Secara bahasa ta’lim berarti pengajaran (masdar dari ‘alama-yu’alimu-ta’liman), secara istilah berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampian pengertian, pengetahuan dan ketrampilan. Menurut Abdul Fattah Jalal, ta’lim merupakan proses pemberian pengatahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, sehingga diri manusia itu menjadi suci atau bersih dari segala kotoran sehingga siap menerima hikmah dan mampu mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya ( ketrampilan).
Mengacu pada definisi ini, ta’lim, berarti adalah usaha terus menerus manusia sejak lahir hingga mati untuk menuju dari posisi ‘tidak tahu’ ke posisi ‘tahu’ seperti yang digambarkan dalam surat An Nahl ayat 78,
 “Dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”.(QS. An Nahl : 78)
At Ta’lim Dalam Al Quran
At-Ta’lim dalam al-qur’an menggunkan bentuk fi’il (kata kerja) dan isim (kata benda), dalam fi’il madliy disebutkan sebanyak 25 ayat dari 15 surat, Fi’il mudlari 16 kali dalam 8 surat.
Kata-kata at-Ta’lim dalam bentuk fi’l madliy (kata kerja lampau) adalah ‘allama dengan berbagai variasinya, antara lain :
1. QS. Al-Baqarah : 31
Al-Maraghi menjelaskan kata ‘allama dengan alhamahu (memberi Ilham), maksudnya Allah memberi Ilham kepada Nabi Adam ‘alaihis salam untuk mengetahui jenis-jenis yang telah diciptakan beserta zat, sifat, dan nama-namanya.
2. Q.S. Ar-Rahman : 1-4
Kata Allama’ mengandung arti memberitahukan, menjelaskan, memberi pemahaman.
3. QS. Al-‘Alaq : 4-5
Ash-Shawi, Al-Maraghi, dan Al-Juzi menafsirkan makna ‘allama, dengan makna memberitahukan atau menyampaikan ilmu menulis dengan kalam, menjadikan kalam sebagai alat untuk saling memahami di antara manusia.
At-Ta’lim Dalam Hadits
Menurut Al-Asqalani, kata ta’lim nabi kepada umatnya, lai-laki dan perempuan dengan cara tidak mengunakan pendapatnya dan juga qiyas. Secara struktur, kata hum dalam hadits menunjukan makna ta’lim bersifat umum, bagi siapa saja dan tingkatan usia.
Kata ta’lim berasal dari kata dasar “allama” yang berarti mengajar, mengetahui. Pengajaran (ta’lim) lebih mengarah pada aspek kognitif, ta’lim mencakup aspek-aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidupnya serta pedoman perilaku yang baik.
Dari pengertian diatas, ta’lim mencakup aspek-aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidupnya serta pedoman perilaku yang baik, sebagai upaya untuk mengembangkan, mendorong dan mengajak manusia lebih maju dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan maupun perbuatan karena seseorang dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, tetapi ia dibekali dengan berbagai potensi untuk mengembangkan keterampilannya tersebut agar dapat memahami ilmu serta memanfaatkannya dalam kehidupan.
Kalau ada yang mengatakan Da’wah itu harus berimu tinggi, harus pakai dalil, pakai ayat, pakai hadits, kitab tertentu,… hal ini masih rancu dalam pengertian antara Da’wah (mengajak) dan Ta’lim (mengajar). Jika kita mengatakan Da’wah harus berilmu tinggi, jangan-jangan kita ini termasuk penghalang dalam Da’wah. Karena mempersulit kerja atau usaha Da’wah itu sendiri.
Untuk berda’wah ada dalil yang sangat sederhana :“Ballighuu ‘anny walau ayah” (Shahih Al Bukhari)
“Sampaikan dariku walau satu ayat” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad bin Hambal, Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam At-Tirmidzi rahimahumullah dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, yang berarti: “Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat saja (yang kamu tahu)”. Artinya bahwa, meskipun kita hanya tahu satu ayat Al-Qur’an atau satu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau satu hukum Islam saja misalnya, maka wajib bagi kita untuk menyampaikan apa yang kita ketahui itu kepada orang lain. Apalagi jika kita mengetahui lebih dari satu.)
Dalam hadits lain,Dari abu Said al-Khudri, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah bresabda, "Siapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya (mencegahnya) kengan tangannya (kekuasannya), jika dia tidak sanggup, maka dengan lisannya (menasihatinya), dan jika tidak sanggup juga, maka dengan hatinya(merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman". (HR. Muslim no. 49)
Perkataan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: رَأَى مَنْ, ditujukan bagi siapa saja yang telah sampai kepadanya perkara kemungkaran, baik dengan melihat ataupun dengan mendengar.
Hadits diatas memuat dorongan yang sangat kuat bagi setiap orang Islam tanpa kecuali untuk turut berperan aktif mengambil bagian dalam aktivitas dakwah ke jalan Allah, masing-masing dalam batas kemampuannya. Dan hal itu tanpa membedakan antara ulama dan orang awam, antara kyai dan santrinya, antara ustadz dan jamaahnya, dan seterusnya. Semuanya wajib berdakwah dalam rangka menyampaikan ajaran Islam yang merupakan warisan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, karena ummat ini memang telah ditetapkan sebagai ummat dakwah.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan hendaklah kalian menjadi satu ummat (yang bersatu), yang berdakwah mengajak kepada kebaikan,ber-amr bil-ma’ruf dan ber-nahy ‘anil-munkar. Dan hanya merekalah orang-orang yang selamat dan beruntung” (QS. Ali ‘Imran 3: 104).
Disamping itu gelar kehormatan sebagai “khairu ummah” (ummat terbaik) juga hanya berhak disandang oleh ummat ini jika memenuhi syaratnya yang tidak lain adalah: berdakwah, ber-amr bilma’ruf dan ber-nahi ‘anil-munkar tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya): “Kalian (ummat Islam) adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan di hadapan seluruh manusia, (karena) kamu ber-amr bil-ma’ruf, ber-nahi ‘anil-munkar dan beriman kepada Allah” (QS. Ali ‘Imran 3: 110).
Dan karena kebanyakan kita sekarang telah meninggalkan kewajiban dan tugas mulia itu maka tidak heran jika gelar “khairu ummah” itu seakan-akan telah tanggal dan lepas dari ummat ini, meskipun bukan berarti berpindah ke tangan ummat lain karena hal itu memang tidak mungkin disebabkan kekufuran mereka. Faktanya bahwa diantara ummat ini, hanya tinggal sedikit saja yang tetap berkomitmen dan konsisten dalam mengemban amanah dakwah, yang tentu saja tidak akan bisa menutupi kebutuhan dan tuntutan dakwah yang sangat besar dengan problematika-problematika dan tantangan-tantangannya yang begitu banyak,  beragam dan kompleks.
Dan salah satu faktor penyebab yang melatarbelakangi keengganan banyak kalangan untuk ikut aktif dalam berdakwah ialah adanya persepsi yang salah bahwa, dakwah dan penyebaran Islam hanya menjadi kewajiban dan kewenangan ulama, kyai dan ustadz saja. Juga pemahaman yang salah pula bahwa, untuk berdakwah seseorang disyaratkan harus hafal banyak dalil, baik ayat maupun hadits, dan juga harus menguasai banyak hukum Islam. Dan itu semua hanya dimiliki oleh para ulama. Maka hanya merekalah yang berhak dan berkewajiban untuk berdakwah. Itu masih ditambah lagi dengan kesalahpahaman lain yang membatasi makna dan cakupan aktivitas dakwah hanya pada ceramah dan khotbah saja, sedangkan tidak semua orang mampu berceramah dan berkhotbah. Itu semua merupakan kesalahpahaman yang terbantahkan secara sangat tegas oleh penggalan hadits diatas, yang bahkan mengharuskan bagi seseorang yang hanya tahu satu ayat sekalipun agar menyampaikan dan mendakwahkan yang diketahuinya itu. Dan juga oleh dua ayat yang telah disebutkan tadi.
Tentu saja masih banyak dalil lain lagi yang mewajibkan berdakwah bagi setiap orang Islam, masing-masing dalam batas kemampuannya. Bahkan saat ini seorang muslim yang awam dan buta huruf sekalipun tetap bisa ikut berdakwah, tentu saja dakwah dengan arti yang luas yang mencakup setiap bentuk ajakan kepada kebenaran dan kebaikan dalam ajaran Islam. Apalagi jika kita ingat bahwa, banyak sekali aspek dan materi dakwah saat ini yang memang tidak butuh banyak dalil atau bahkan tidak perlu dalil sama sekali, disebabkan karena begitu jelas dan gamblangnya masalah yang dihadapi! Misalnya, jika seseorang ingin mendakwahi dan mengajak orang Islam yang tidak shalat untuk shalat, yang tidak puasa Ramadhan agar mau berpuasa, yang tidak mengenal masjid agar mau ke masjid, yang masih suka minum minuman keras, berjudi, mencuri, melacur dan semacamnya agar mau meninggalkan semua kejahatan dan kemaksiatan itu. Materi-materi dakwah seperti itu di kalangan mayoritas ummat Islam tidak butuh banyak dalil lagi, karena kebanyakan mereka seawam apapun, termasuk para pelanggarnya sendiri, telah mengetahui dan meyakini wajibnya yang wajib dan haramnya yang haram diantara prinsip-prinsip ajaran Islam itu semua.
Untuk Hal yang sifatnya sudah umum/kita sudah tahu maka “lakukan saja” dan berarti kita telah berdakwah kepada diri sendiri. Mengajak Shalat berjamaah, melarang berjudi dan sebagainya itupun termasuk dakwah, walaupun tidak pakai dalil ayat Quran atau hadits Nabi. Bahkan Alim ulama sampaikan kalau kita membangunkan anak kita dipagi hari untuk Shalat subuh, inipun sudah Da’wah kepada anak sendiri.
Rasulullah dalam berda’wah kepada Sahabat kadang menggunakan Tamsil agar lebih mudah diterima, begitupun Alim ulama juga sering memberi contoh kepada kita dengan tamsil, kitapun tentunya juga tidak salah membuat tamsil-tamsil untuk memberi kemudahan kepada orang yang kita Da’wahi (Mad’un).
Marilah ber-Da’wah, sesuai kapasitas kita, sesuai apa yang kita sudah tahu, syukur lagi yang sudah kita amalkan kalau kita mati, amalan Da’wah kita tetap mengalir kepada kita.
Dari firman Allah subhanahu wa ta’ala  :
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…….” (QS Ali Imran : 110)
Menunjukkan bahwa kita semua dilahirkan atau dikeluarkan ke muka bumi oleh Allah adalah untuk berdakwah kepada seluruh manusia dimanapun berada. Sehingga tidak salah kalau dikatakan kita sekarang ini adalah juru dakwah (da’i) yang sedang di kantor, kita da’i yang sedang di pasar, di sawah, di kebun, di jalan, dan dimana saja berada.
Hari ini agama Islam susah berkembang karena merasa diri kita bukan sebagai da’i tetapi kita sebagai pegawai, pedagang, petani, dsb. Inilah kesalah pahaman umat hari ini. Sehingga kita tidak peduli sahabat tidak shalat, tidak peduli sahabat maksiat. Kita tidak mau mengajak memberi peringatan untuk taat kepada Allah dan tidak mau menyampaikan pentingnya agama Islam sebagai agama yang diridhai oleh Allah.
Dan ingat bahwa Da’wah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Da’wah dengan (mahabah) Kasih sayang sebagaimana ketika Rasulullah di tolak Da’wah beliau di Tho’if (kaum Tsaqif) namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap sayang kepada kaum Tsaqif tersebut.
Jika amalan kita ingin diperbaiki oleh Allah dan dosa kita digugurkan oleh Allah inilah jalanNya yaitu DA’WAH. Dak’wah yang akan membawa umat kembali jaya sebagaimana era sahabat radhiyallahu ‘anhum, memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Mendatangi Umat, bergerak laksana awan (tidak diundang)
2. Korban harta dan diri (bukan mencari materi dari Da’wahnya, justru mengorbankan yang dimiliki untuk agama)
3. Ijtima’iat (melibatkan orang lain, Saudara sahabat, tetangga dsb) serta memiliki tertib yang sama seluruh dunia.
4. Semata-mata karena Allah, bukan karena diutus oleh organisasi, Yayassan atau yang lainnya. Istiqamah dalam buat dakwah, walaupun orang lain ada yang tidak senang dan menentang.
5. Bergerak dan menggerakkan orang lain, artinya kita berdakwah dan menjadikan semua orang juga berdakwah.
6. Dakwahnya mengajak hanya kepada Allah, bukan kepada partai atau golongan atau madzhab tertentu.
Semoga Allah bimbing kita menjadi Da’i dan tidak terkesan kepada para penghalang Da’wah. (penghalang Da’wah hanyalah Makhluk Allah yang tidak memberi manfaat dan mudhorot kecuali atas izin Allah, dan akan selalu ada penghalang dakwah ini sampai hari kiamat).

No comments: