إِنَّ
الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِي الدُّنْيَا
وَاْلأَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا
“Sesungguhnya
orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di
dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS.
al-Ahzab: 57).
Orang-orang
yang menyakiti para sahabat berarti mereka telah menyakiti Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, sedangkan siapa saja yang menyakiti Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berarti telah menyakiti Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan siapa pun yang menyakiti Allah Subhanahu wa Ta’ala maka
dia adalah orang yang melakukan perbuatan dosa yang paling besar bahkan bisa
mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jangan kalian mencela sahabatku, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud maka tidaklah menyamai 1 mud mereka atau setengahnya.” (HR. Bukhari, no.3470 dan Muslim, no.2540).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jangan kalian mencela sahabatku, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud maka tidaklah menyamai 1 mud mereka atau setengahnya.” (HR. Bukhari, no.3470 dan Muslim, no.2540).
Dan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Barang
siapa mencela sahabatku, atasnya laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala, para
malaikat dan manusia seluruhnya.” (HR. Thabarani dalam Mu’jamul
Kabi, 12:142 dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadis
Ash-Shahihah, no.2340).
Masih
banyak lagi dalil-dalil yang menunjukkan kemuliaan para sahabat dan haramnya
mencela apalagi mencaci para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Bahkan kewajiban kita adalah memuliakan mereka karena mereka telah
memuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Inilah
manhaj (metode) yang ditempuh oleh ahlus sunnah wal jama’ah.
Siapa saja yang menyimpang dari metode ini berarti mereka adalah orang-orang
yang tersesat dari jalan yang benar.
Al-Imam
Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Termasuk hujjah (argumentasi)
yang jelas adalah menyebut kebaikan-kebaikan para sahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam seluruhnya, dan menahan lisan dari membicarakan
keburukan mereka dan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Siapa saja
yang mencela para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau
salah satu di antara mereka, mencacat dan mencela mereka, membongkar aib mereka
atau salah satu dari mereka maka dia adalah mubtadi (bukanlah ahlussunnah),
rafidhi (Syi’ah). Mencintai para sahabat adalah sunah, mendoakan kebaikan untuk
mereka adalah amalan ketaatan, meneladani mereka adalah perantara (ridha-Nya),
mengikuti jejak mereka adalah kemuliaan. Para sahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah manusia terbaik, tidak dibenarkan bagi
seorang pun menyebut-menyebut kejelekan mereka, tidak pula mencacat atau
mencela dan membicarakan aib salah satu di antara mereka.” Wallahu a’lam.

No comments:
Post a Comment