Mengingkari
kemungkaran dan menjelaskan kebenaran dengan hikmah merupakan kewajiban seorang
Muslim. Jika penjelasan itu diterima, itulah yang dikehendaki. Namun jika
ditolak, maka hendaklah kita mendoakannya, semoga diberi hidayah oleh Allah. Jangan
sampai timbul perdebatan, sehingga mengundang pecahnya ukhuwah bahkan bisa
berakibat mendatangkan murka Allah. Berikut ini, La Tansa DS akan memaparkan
wasiat dari Nabi SAW dan para salafush shalih agar kita menghindari perdebatan.
Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
"Sesungguhnya
orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat" [HR. Bukhâri, no. 2457; Muslim,
no. 2668; dll]
Mendebat dalam hadits diatas maksudnya adalah mendebat dengan cara batil atau tanpa ilmu. Sedangkan orang yang berada di pihak yang benar, sebaiknya dia juga menghindari perdebatan. Karena debat itu akan membangkitkan emosi, mengobarkan kemurkaan, menyebabkan dendam, dan mencela orang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Mendebat dalam hadits diatas maksudnya adalah mendebat dengan cara batil atau tanpa ilmu. Sedangkan orang yang berada di pihak yang benar, sebaiknya dia juga menghindari perdebatan. Karena debat itu akan membangkitkan emosi, mengobarkan kemurkaan, menyebabkan dendam, dan mencela orang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَنَا
زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ
فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
"Saya
memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan
perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di
tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya
memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan
akhlaqnya"
[HR. Abu Dawud, no. 4800; dishahîhkan an-Nawawi dalam Riyâdhus Shâlihîn, no.
630]
2. Nabi Sulaiman
‘alaihissalam
Nabi Sulaiman
‘alaihissalam berkata kepada putranya: “Tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat
karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia
membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” [Ad-Darimi:
309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897]
3. Ibnu Abbas
radhiyallahu ‘anhuma
“Cukuplah engkau
sebagai orang zhalim bila engkau selalu mendebat. Dan cukuplah dosamu jika kamu
selalu menentang, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu berbicara dengan selain
dzikir kepada Allah.” [al-Fakihi dalam Akhbar Makkah]
4. Abud Darda radhiyallahu
‘anhu
“Engkau tidak
menjadi alim sehingga engkau belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu
sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu bila kamu selalu mendebat, dan
cukuplah dosamu bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu bila kamu selalu
berbicara bukan dalam dzikir tentang Allah.” [Darimi: 299]
5. Muslim Ibn Yasar
rahimahullah
“Jauhilah
perdebatan, karena ia adalah saat bodohnya seorang alim, di dalamnya setan
menginginkan ketergelincirannya.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra; Darimi:
404]
6. Hasan Bashri
rahimahullah
Ada orang datang
kepada Hasan Bashri rahimahullah lalu berkata, “Wahai Abu Sa’id kemarilah, agar
aku bisa mendebatmu dalam agama!”
Maka Hasan Bashri
rahimahullah berkata: “Adapun aku maka aku telah memahami agamaku, jika engkau
telah menyesatkan (menyia-nyiakan) agamamu maka carilah.” [Ibnu Baththah,
al-Ibanah al-Kubra: 588]
7. Umar ibn Abdul
Aziz rahimahullah
“Barangsiapa
menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka ia akan banyak
berpindah-pindah (agama).” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 565]
8. Abdul Karim
al-Jazari rahimahulah
“Seorang yang
wira’i1 tidak akan pernah mendebat sama sekali.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah
al-Kubra: 636; Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]
9. Ja’far ibn
Muhammad rahimahullah
“Jauhilah oleh
kalian pertengkaran dalam agama, karena ia menyibukkan (mengacaukan) hati dan
mewariskan kemunafikan.” [Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]
10. Mu’awwiyah ibn
Qurrah rahimahullah
“Dulu dikatakan:
pertikaian dalam agama itu melebur amal.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra:
562]
11. al Auza’i
rahimahullah
“Jika Allah
menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri
mereka dan menghalangi mereka dari amal.” [Siyar al-A’lam 16/104; Tadzkiratul
Huffazh: 3/924; Tarikh Dimsyq: 35/202]
12. Imran al-Qashir
rahimahullah
“Jauhi oleh kalian
perdebatan dan permusuhan, jauhi oleh kalian orang-orang yang mengatakan:
Bagaimana menurutmu, bagaimana pendapatmu.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra:
639]
13. Muhammad ibn
Ali ibn Husain rahimahullah
“Pertikaian itu
menghapuskan agama dan menumbuhkan permusuhan di hati orang-orang.” [al-Adab
al-Syar’iyyah: 1/23]
14. Abdullah ibn
Hasan ibn Husain rahimahullah
Dikatakan kepada
Abdullah ibn al Hasan ibn al Husain rahimahullah, “Apa pendapatmu tentang perdebatan
(mira’)?”
Dia menjawab: “Merusak
persahabatan yang lama dan mengurai ikatan yang kuat. Minimal ia akan menjadi
sarana untuk menang-menangan itu adalah sebab pemutus talit silaturrahim yang
paling kuat.” [Tarikh Dimasyq: 27-380]
15. Bilal ibn Sa’d rahimahullah
(kedudukannya di Syam sama dengan Hasan Bashri di Bashrah)
“Jika kamu melihat
seseorang terus-terusan menentang dan mendebat maka sempurnalah kerugiannya.” [al-Adab
al-Syar’iyyah: 1/23]
16. Wahab ibnu
Munabbih rahimahullah
“Tinggalkanlah
jidal dari perkaramu, karena ia tidak akan dapat mengalahkan salah satu dari
dua orang: seseorang yang lebih alim darimu, bagaimana engkau memusuhi dan
mendebat orang yang lebih alim darimu? Dan seseorang yang engkau lebih alim
daripadanya, bagaimana engkau memusuhi orang yang engkau lebih alim daripadanya
dan ia tidak mentaatimu? Maka tinggalkanlah itu.” [Tahdzibul Kamal: 31/148;
Siyarul A’lam: 4/549; Tarikh Dimasyq: 63/388]
17. Malik ibnu Anas
rahimahullah
Ma’n rahimahullah
berkata: “Pada suatu hari Imam Malik ibn Anas berangkat ke masjid sambil
berpegangan pada tangan saya, lalu beliau dikejar oleh seseorang yang dipanggil
dengan Abu al-Juwairah yang dituduh memiliki Aqidah Murji’ah.”
Dia berkata: ‘Wahai
Abu Abdillah dengarkanlah dariku sesuatu yang ingin saya kabarkan kepada anda,
saya ingin mendebat anda dan memberi tahu anda tentang pendapatku.’
Imam Malik berkata,
‘Hati-hati, jangan sampai aku bersaksi atasmu.’
Dia berkata, ‘Demi
Allah, saya tidak menginginkan kecuali kebenaran. Dengarlah, jika memang benar
maka ucapkan.’
Imam Malik
bertanya, ‘Jika engkau mengalahkan aku?’
Dia menjawab, ‘Maka
ikutlah aku!’
Imam Malik bertanya
lagi, ‘Kalau aku mengalahkanmu?’
Dia menjawab, ‘Aku
mengikutimu?’
Imam Malik
bertanya, ‘Jika datang orang ketiga lalu kita ajak bicara dan kita
dikalahkannya?’
Dia berkata, ‘Ya
kita ikuti dia.’
Imam Malik
rahimahullah berkata: “Hai Abdullah, Allah azza wa jalla telah mengutus
Muhammad dengan satu agama, aku lihat engkau banyak berpindah-pindah (agama),
padahal Umar ibnu Abdil Aziz telah berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya
sebagai sasaran untuk perdebatan maka dia akan banyak berpindah-pindah”.”
Imam Malik
rahimahullah berkata: ”Jidal dalam agama itu bukan apa-apa (tidak ada nilainya
sama sekali).”
Imam Malik
rahimahullah berkata: “Percekcokan dan perdebatan dalam ilmu itu menghilangkan
cahaya ilmu dari hari seorang hamba.”
Imam Malik
rahimahullah berkata: “Sesungguhnya jidal itu mengeraskan hati dan menimbulkan
kebencian.”
Imam Malik
rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki ilmu sunnah, apakah
ia boleh berdebat membela sunnah? Dia menjawab, ”Tidak, tetapi cukup
memberitahukan tentang sunnah.” (Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Qadhi
Iyadh: 1/51; Siyarul A’lam: 8/106; al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, hal.62-65)
18. Muhammad ibn
Idris as-Syafi’I rahimahullah
“Percekcokan dalam
agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.” [Thobaqat
Syafiiyyah 1/7, Siyar, 10/28]
19. Ahmad bin
Hambal rahimahullah
Imam Ahmad
rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang, “Saya ada di sebuah majelis lalu
disebutlah didalamnya sunnah yang tidak diketahui kecuali oleh saya, apakah
saya mengatakan?”
Dia menjawab: “Beritakanlah
sunnah itu, dan janganlah mendebat karenanya!”
Orang itu
mengulangi pertanyaannya, maka Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak
melihatmu kecuali seorang yang mendebat.” [al-Adab as-Syar’iyyah: 1/358, dalam
bab menyebar sunnah dengan ucapan dan perbuatan tanpa perdebatan dan kekerasan;
al-Bashirah fid-Da’wah Ilallah: 57]
20. Shafwan ibn
Muhammad al-Mazini rahimahullah
Saat Shafwan
rahimahullah melihat para pemuda berdebat di Masjid Jami’ maka ia mengibaskan
tangannya sambil berkata: “Kalian adalah jarab2, kalian adalah jarab.” [Ibnu
Battah: 597]
Dahulu dikatakan: “Janganlah
engkau mendebat orang yang santun dan orang yang bodoh; orang yang santun
mengalahkanmu, sedang orang yang bodoh menyakitimu.” [Al-Adab al-Syar’iyyah:
1/23]
“Ya Allah jauhkanlah kami dari jidal, dan anugerahkan pada kami istiqomah dalam iman dan amal. Janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah engkau memberi hidayah pada kami.” Aamiin.

No comments:
Post a Comment