Dalam dekade
terakhir, kita sering melihat aksi-aksi kekerasan terhadap kelompok yang
dituding sesat, ahli bid’ah, menodai agama, kafir, murtad, dan menyimpang.
Keganasan yang berbasis agama ini telah mengubah citra syiar Islam yang dibagun
oleh Nabi SAW dengan yaitu dengan hikmah dan kasih sayang (terhadap sesama muslim), kini hadir
dengan wajah seram dan menampakkan gurat-gurat kemarahan.
“Dan orang-orang yang bersama dengan
dia (Muhammad) adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang
dengan sesama mereka” (Q.S.
Al-Fath:29).
Bila kita
cermati, aksi-aksi kekerasan punya andil terhadap Islamofobia. Karena menurut
hemat saya yang dhaif ini, Islamofobia tidak hanya muncul karena pihak
non-Islam terhadap Islam, namun juga penyebab Islamofobia bisa tumbuh dari
dalam umat Islam sendiri. Misalnya, karena kedangkalan iman dan ilmunya, yakni seseorang
mudah terkontaminasi cara pandang Yahudi-Nasrani. Selain itu, dengan merebaknya
penerapan metode dakwah yang menyelisihi Al Qu’ran dan sunnah juga turut
memperkeruh suasana sehingga membuat Islam disalahpahami.
Pemaksaan
keyakinan terhadap kelompok lain sebenarnya melanggar prinsip-prinsip dakwah
dan syiar dalam Islam. Apalagi dalam masalah furu’iyah yang secara fiqh
mempunyai banyak khilafiyah dikalangan para fuqaha. Untuk itulah penting untuk kita
mencermati dan membedakan dua ruang yang sangat penting: ruang dakwah dan ruang
hidayah. Dua ruang ini dibedakan secara tegas dalam ayat-ayat 125 surat al-Nahl
yang dikenal sebagai ”ayat dakwah”.
“Serulah
(manusia) pada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia yang lebih
mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia yang lebih
mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Dakwah adalah
ikhtiar dan tugas manusia untuk mengajak, menyeru dan mengundang orang lain
pada kebaikan dienul-Islam. Ruang ini lebih bersifat penawaran, negoisasi,
dialog, rayuan, dan proses yang tak pernah putus dan selesai.
Dalam ruang
lingkup dakwah, metode dan cara lebih diutamakan dari isi dan tujuan dari
ajakan (dakwah) tanpa mengesampingkan Al Qur’an dan sunnah. Sebuah pepatah
mengatakan: al-thariqah ahammu min al-maddah (metode lebih
penting dari isi materi). Dari ayat di atas, tiga metode itu dengan hikmah,
pelajaran yang baik, dan bila perlu dengan perdebatan dan polemik namun dengan
cara yang terbaik. Teks al-Qur’an menggunakan bentuk superlatif ahsan (yang
terbaik).
Selanjutnya, yang
sering diabaikan dalam ayat ini dan merupakan batas akhir manusia yang tidak
boleh dimasuki, karena ruang ini adalah ruang ketuhanan: menilai yang sesat dan
memperoleh hidayah (petunjuk). Seorang muslim musti merasa terpanggil untuk
melakukan amal dakwah, syiar demi kebaikan, namun bukan tugas dia (manusia):
mengubah keyakinan, menilai yang sesat dan lurus, apalagi memberikan
hidayah. Ringkasnya; manusia hanya ditugaskan untuk berdakwah, sementara
hidayah adalah di dalam kekuasaan Allah. Manusia berusaha (ikhtiar), Allah yang
menentukan hasilnya.
Dalam Al Qur’an
yang mulia, Allah SWT berfirman:
إِنَّكَ لَا
تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِين
“Sungguh engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk
kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang
yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima
petunjuk.” (Al-Qashash [28]: 56)
Asbabun nuzul ayat ini
berkenaan dengan peristiwa dakwahnya Nabi SAW menjelang kematian Abu Thalib bin
Abdul Muththalib pada tahun ke-10 masa kenabian di Makkah. Dalam kitab Tafsir
at-Thabari diceritakan, ketika itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sangat terpukul dan bersedih hati. Di hadapan Nabi, Abu Thalib yang juga
saudara ayahnya, Abdullah bin Abdul Muththalib, harus meninggal dunia tanpa mampu
mengucapkan kalimat tauhid.
Kesedihan Nabi itu bisa
dipahami, karena selama ini sang pamanlah yang banyak memberi dukungan atas
perjuangan Nabi pada awal masa keislaman di kota Makkah. Tak hanya sokongan
materi, namun yang paling terasa adalah berkali-kali Abu Thalib menjadi
“tameng” atas diri Nabi dalam menghadapi makar jahat para tokoh kafir Quraisy
Makkah masa itu.
Kisah tragis yang menimpa Abu Thalib saat kematiannya juga menyisakan pesan tersirat akan hakikat kehidupan dunia. Imam at-Thabari menceritakan dalam tafsirnya, ketika Abu Thalib sedang dalam kondisi sakarat menjemput kematiannya, Nabi masuk menemui Abu Thalib di pembaringan. Rupanya di sisi pembaringan Abu Thalib telah menunggu Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah, perwakilan tokoh Kafir Quraisy.
Kisah tragis yang menimpa Abu Thalib saat kematiannya juga menyisakan pesan tersirat akan hakikat kehidupan dunia. Imam at-Thabari menceritakan dalam tafsirnya, ketika Abu Thalib sedang dalam kondisi sakarat menjemput kematiannya, Nabi masuk menemui Abu Thalib di pembaringan. Rupanya di sisi pembaringan Abu Thalib telah menunggu Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah, perwakilan tokoh Kafir Quraisy.
Dengan penuh kesabaran,
Nabi lalu berupaya membujuk dan menuntun pamannya mengucapkan kalimat tauhid.
Namun usaha tersebut langsung disergah oleh Abu Jahl seraya berkata, “Wahai Abu
Thalib, apakah engkau rela meninggalkan agama nenek moyang kita yang telah
turun temurun diyakini oleh kita semua?” Alhasil –qaddarallahu- Abu Thalib meninggal dunia tanpa sempat mengucapkan
syahadat. Sebuah pukulan telak bagi Nabi yang berusaha menyelamatkan pamannya
saat itu.
Ayat ini juga mengajarkan
kepada kita tentang modal dasar dalam melakukan dakwah. Tidak lain modal dasar
itu bernama keimanan, kesungguhan, sabar dan istiqamah. Keimanan adalah harga
mati yang tidak bisa ditawar dengan suatu apa pun di dunia ini. Sayangnya, ketika seorang ahli dakwah tak pernah putus dalam
dakwahnya, mengajak dan menyeru lagi dan lagi sering disalahpahami oleh mad’u
(orang yang diseru) seolalah-olah pemaksaan kehendak. Padahal tidaklah
demikian. Ini menunjukkan bahwa sang da’i tersebut punya kesungguhan, kesabaran
dan istiqamah dalam dakwahnya walaupun ujian (dicaci, dihina, dikucilkan) selalu mengiringinya.
Orang yang ingin
menyebarkan kebaikan berarti telah siap menghadapi tantangan. Namun, seorang
dai tidak akan mundur dengan aral yang melintang tersebut, sebab ia telah sadar
seperti itulah risiko di dalam menyebarkan dakwah dan agama ini.
Indikasi keberhasilan
suatu dakwah seorang dai tidaklah diukur dengan banyaknya pujian yang mengalir.
Ia tidak didasarkan pada riuh rendah tepukan tangan ataupun banyaknya pengikut.
Namun, standar keberhasilan amalan dakwah seseorang adalah semata-mata berdasarkan
pada keikhlasan dakwah yang ia perbuat, sehingga imannya sendiri semakin kokoh
dan nuwuhke (menyuburkan amal shaleh) sebagai buah dari keimanan yang sedia
ada. Keimanan itu pula yang menjadikan amalannya senantiasa mengikuti contoh
yang telah dilakonkan oleh Rasulullah beserta para sahabatnya terdahulu.
Sisi lain dari apa yang
terjadi pada diri Abu Thalib adalah potret nyata ending suatu perbuatan yang
dibungkus tanpa menyertakan keimanan. Ketika Abu Thalib berbuat baik pada kaum
Muslimin, bahkan berbuat baik kepada seorang nabi pun apabila tanpa didasari
dengan iman, maka kebaikannya hanya melekat seumur ia hidup di dunia saja.
Tanpa bisa menolong dirinya pada Yaum al- Hisab (Hari Pembalasan) nanti.
Kebaikan Abu Thalib hanya bisa dikenang sebagai perbuatan baik di mata manusia,
bukan sebagai amalan saleh di sisi Allah.
Bersambung.....

No comments:
Post a Comment