Friday, 31 January 2014

DAKWAH, DOA DAN HIDAYAH

DAKWAH, DOA DAN HIDAYAH
Dalam dekade terakhir, kita sering melihat aksi-aksi kekerasan terhadap kelompok yang dituding sesat, ahli bid’ah, menodai agama, kafir, murtad, dan menyimpang. Keganasan yang berbasis agama ini telah mengubah citra syiar Islam yang dibagun oleh Nabi SAW dengan yaitu dengan hikmah dan kasih sayang (terhadap sesama muslim), kini hadir dengan wajah seram dan menampakkan  gurat-gurat kemarahan. 

“Dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka” (Q.S. Al-Fath:29).

Bila kita cermati, aksi-aksi kekerasan punya andil terhadap Islamofobia. Karena menurut hemat saya yang dhaif ini, Islamofobia tidak hanya muncul karena pihak non-Islam terhadap Islam, namun juga penyebab Islamofobia bisa tumbuh dari dalam umat Islam sendiri. Misalnya, karena kedangkalan iman dan ilmunya, yakni seseorang mudah terkontaminasi cara pandang Yahudi-Nasrani. Selain itu, dengan merebaknya penerapan metode dakwah yang menyelisihi Al Qu’ran dan sunnah juga turut memperkeruh suasana sehingga membuat Islam disalahpahami.


Pemaksaan keyakinan terhadap kelompok lain sebenarnya melanggar prinsip-prinsip dakwah dan syiar dalam Islam. Apalagi dalam masalah furu’iyah yang secara fiqh mempunyai banyak khilafiyah dikalangan para fuqaha. Untuk itulah penting untuk kita mencermati dan membedakan dua ruang yang sangat penting: ruang dakwah dan ruang hidayah. Dua ruang ini dibedakan secara tegas dalam ayat-ayat 125 surat al-Nahl yang dikenal sebagai ”ayat dakwah”.

“Serulah (manusia) pada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Dakwah adalah ikhtiar dan tugas manusia untuk mengajak, menyeru dan mengundang orang lain pada kebaikan dienul-Islam. Ruang ini lebih bersifat penawaran, negoisasi, dialog, rayuan, dan proses yang tak pernah putus dan selesai. 
                                        
Dalam ruang lingkup dakwah, metode dan cara lebih diutamakan dari isi dan tujuan dari ajakan (dakwah) tanpa mengesampingkan Al Qur’an dan sunnah. Sebuah pepatah mengatakan: al-thariqah ahammu min al-maddah (metode lebih penting dari isi materi). Dari ayat di atas, tiga metode itu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan bila perlu dengan perdebatan dan polemik namun dengan cara yang terbaik. Teks al-Qur’an menggunakan bentuk superlatif ahsan (yang terbaik).

Selanjutnya, yang sering diabaikan dalam ayat ini dan merupakan batas akhir manusia yang tidak boleh dimasuki, karena ruang ini adalah ruang ketuhanan: menilai yang sesat dan memperoleh hidayah (petunjuk). Seorang muslim musti merasa terpanggil untuk melakukan amal dakwah, syiar demi kebaikan, namun bukan tugas dia (manusia): mengubah keyakinan, menilai yang sesat dan lurus, apalagi memberikan hidayah. Ringkasnya; manusia hanya ditugaskan untuk berdakwah, sementara hidayah adalah di dalam kekuasaan Allah. Manusia berusaha (ikhtiar), Allah yang menentukan hasilnya.

Dalam Al Qur’an yang mulia, Allah SWT berfirman:


إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين

“Sungguh engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash [28]: 56)

Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan peristiwa dakwahnya Nabi SAW menjelang kematian Abu Thalib bin Abdul Muththalib pada tahun ke-10 masa kenabian di Makkah. Dalam kitab Tafsir at-Thabari diceritakan, ketika itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat terpukul dan bersedih hati. Di hadapan Nabi, Abu Thalib yang juga saudara ayahnya, Abdullah bin Abdul Muththalib, harus meninggal dunia tanpa mampu mengucapkan kalimat tauhid.

Kesedihan Nabi itu bisa dipahami, karena selama ini sang pamanlah yang banyak memberi dukungan atas perjuangan Nabi pada awal masa keislaman di kota Makkah. Tak hanya sokongan materi, namun yang paling terasa adalah berkali-kali Abu Thalib menjadi “tameng” atas diri Nabi dalam menghadapi makar jahat para tokoh kafir Quraisy Makkah masa itu.

Kisah tragis yang menimpa Abu Thalib saat kematiannya juga menyisakan pesan tersirat akan hakikat kehidupan dunia. Imam at-Thabari menceritakan dalam tafsirnya, ketika Abu Thalib sedang dalam kondisi sakarat menjemput kematiannya, Nabi masuk menemui Abu Thalib di pembaringan. Rupanya di sisi pembaringan Abu Thalib telah menunggu Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah, perwakilan tokoh Kafir Quraisy.

Dengan penuh kesabaran, Nabi lalu berupaya membujuk dan menuntun pamannya mengucapkan kalimat tauhid. Namun usaha tersebut langsung disergah oleh Abu Jahl seraya berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau rela meninggalkan agama nenek moyang kita yang telah turun temurun diyakini oleh kita semua?” Alhasil –qaddarallahu- Abu Thalib meninggal dunia tanpa sempat mengucapkan syahadat. Sebuah pukulan telak bagi Nabi yang berusaha menyelamatkan pamannya saat itu.

Ayat ini juga mengajarkan kepada kita tentang modal dasar dalam melakukan dakwah. Tidak lain modal dasar itu bernama keimanan, kesungguhan, sabar dan istiqamah. Keimanan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan suatu apa pun di dunia ini. Sayangnya, ketika seorang ahli dakwah tak pernah putus dalam dakwahnya, mengajak dan menyeru lagi dan lagi sering disalahpahami oleh mad’u (orang yang diseru) seolalah-olah pemaksaan kehendak. Padahal tidaklah demikian. Ini menunjukkan bahwa sang da’i tersebut punya kesungguhan, kesabaran dan istiqamah dalam dakwahnya walaupun ujian (dicaci, dihina, dikucilkan) selalu mengiringinya.

Orang yang ingin menyebarkan kebaikan berarti telah siap menghadapi tantangan. Namun, seorang dai tidak akan mundur dengan aral yang melintang tersebut, sebab ia telah sadar seperti itulah risiko di dalam menyebarkan dakwah dan agama ini.

Indikasi keberhasilan suatu dakwah seorang dai tidaklah diukur dengan banyaknya pujian yang mengalir. Ia tidak didasarkan pada riuh rendah tepukan tangan ataupun banyaknya pengikut. Namun, standar keberhasilan amalan dakwah seseorang adalah semata-mata berdasarkan pada keikhlasan dakwah yang ia perbuat, sehingga imannya sendiri semakin kokoh dan nuwuhke (menyuburkan amal shaleh) sebagai buah dari keimanan yang sedia ada. Keimanan itu pula yang menjadikan amalannya senantiasa mengikuti contoh yang telah dilakonkan oleh Rasulullah beserta para sahabatnya terdahulu.

Sisi lain dari apa yang terjadi pada diri Abu Thalib adalah potret nyata ending suatu perbuatan yang dibungkus tanpa menyertakan keimanan. Ketika Abu Thalib berbuat baik pada kaum Muslimin, bahkan berbuat baik kepada seorang nabi pun apabila tanpa didasari dengan iman, maka kebaikannya hanya melekat seumur ia hidup di dunia saja. Tanpa bisa menolong dirinya pada Yaum al- Hisab (Hari Pembalasan) nanti. Kebaikan Abu Thalib hanya bisa dikenang sebagai perbuatan baik di mata manusia, bukan sebagai amalan saleh di sisi Allah.

Bersambung.....

No comments: