Melihat
dari spesifikasi cara penulisan kalimat-kalimat arab rasm Al-Qur’an dibagi menjadi
tiga macam:
1) Rasm
Qiyasi (الرسم القياسى)
2) Rasm
A’rudi (الرسم العروضي)
3) Rasm
Usman (الرسم العثمان)
Berikut
penjelasan dari masing-masing ungkapan diatas:
1. Rasm
Qiyasi / Imla'i
Rasmul Imla’i adalah
penulisan menurut kelaziman pengucapan/pertuturan. Ada
pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an dengan rasm Imla’i dapat
dibenarkan, tetapi khusus bagi orang awam. Bagi para ulama atau yang
memahami rasm Utsmani tetap wajib mempertahankan
keaslian rasm Utsmani.
Pendapat
diatas diperkuat oleh Al-Zarqani dengan mengatakan
bahwa rasm Imla’i diperlukan untuk menghindarkan ummat dari kesalahan
membaca Al-Qur’an, sedangkan rasm Utsmani di
perlukan untuk memelihara keaslian mushaf Al-Qur’an. Tampaknya, pendapat ini
lebih moderat dan lebih sesuai dengan kondisi ummat, disatu pihak mereka ingin
melestarikan rasm Utsmani, sementara dipihak lain
mereka menghendaki dilakukannya penulisan Al-Qur’an dengan rasm Imla’i untuk memberikan kemudahan bagi kaum muslimin yang kemungkinan
mendapat kesulitan membaca Al-Qur’an dengan rasm Utsmani.
Namun
demikian, kesepakatan para penulis Al-Qur’an dengan rasm Utsmani harus
diindahkan dalam pengertian menjadikannya sebagai rujukan yang keberadaannya
tidak boleh hilang dari masyarakat Islam. Sementara jumlah ummat Islam dewasa
ini cukup besar yang tidak menguasai rasm Utsmani. Bahkan, tidak
sedikit jumlah ummat Islam untuk mampu membaca aksara Arab.
Mereka membutuhkan tulisan lain untuk membantu mereka agar dapat membaca
ayat-ayat Al-Qur’an, seperti tulisan latin. Namun demikian Rasm Utsmani harus
dipelihara sebagai standard
rujukan ketika dibutuhkan.
Demikian
juga tulisan ayat-ayat Al-Qur’an dalam karya ilmiah, rasm Utsmani mutlak
diharuskan karena statusnya sudah masuk dalam kategori rujukan dan penulisannya
tidak mempunyai alasan untuk mengabaikannya. Dari sini kita dapat memahami
bahwa menjaga keotentikan Al-Qur’an tetap merujuk kepada penulisan mushaf
Utsmani. Akan tetapi segi pemahaman membaca Al-Qur’an bisa mengunakan penulisan
yang lain berdasarkan tulisan yang dalam proses penulisan Al-Qur’an mulai dari
Zaman Rasulullah, zaman khalifah Abu Bakar sampai khalifah Utsman Bin Affan yang
penulisnya tidak pernah lepas dari Zaid Bin Tsabit yang merupakan
sekretaris Rasulullah SAW. Secara historis ini membuktikan bahwa Allah SWT
tetap menjaga dan memelihara keotentikan Al-Qur’an.
2. Rasm ‘Arudi
Rasm ‘Arudi ialah cara menuliskan
kalimat-kalimat arab disesuaikan dengan wazan sya’ir-sya’ir arab. Hal itu
dilakukan untuk mengetahui “bahr” (nama macam sya’ir). Dari sya’ir
tersebut contohnya seperti :
وليل كموج البحر ار خي سدو
له sepotong sya’ir Imri’il qais tersebut jika ditulis akan
berbentuk:
وليلن كموج البح ر ار خي سدو
لهو sesuai dengan فعو لن مفا عيلن فعولن مفا
عيلن sebagai timbangan sya’ir yang mempunyai “ bahar tawil.”
3. Rasm
Utsmani
Rasmul Utsmani adalah
pola penulisan Al-Qur’an pada masa Utsman dan disetujui oleh
Utsman.
Rasm utsmani menjadi salah satu cabang ilmu pengetahuan yang
bernama Ilmu Rasm Utsmani. Ilmu ini didefinisikan sebagai ilmu
untuk mengetahui segi-segi perbedaan antara Rasm utsmani dan untuk mengetahui
segi perbedaan antara rasm utsmani dan kaidah-kaidah rasm istilahi (rasm yang
biasa selalu memperhatikan kecocokan antara tulisan dan ucapan) sebagai berikut
contoh antara rasm utsmani dengan rasm istilahi.
Dalam rasm utsmani lafaz (لايستوون) ditulis (لايستون)
Lafaz
(الصلاة) ditulis (الصلوة)
Lafaz
(الزكاة) ditulis (الزكوة)
Lafaz
(الحياة) ditulis (الحيوة)

No comments:
Post a Comment