Friday, 16 May 2014

PEMBAGIAN RASM AL-QUR'AN

Melihat dari spesifikasi cara penulisan kalimat-kalimat arab rasm Al-Qur’an dibagi menjadi tiga macam:
1)      Rasm Qiyasi      (الرسم القياسى)
2)      Rasm A’rudi     (الرسم العروضي)
3)      Rasm Usman       (الرسم العثمان)

Berikut penjelasan dari masing-masing ungkapan diatas:

1.      Rasm Qiyasi / Imla'i
Rasmul Imla’i adalah penulisan menurut kelaziman pengucapan/pertuturan. Ada pendapat yang mengatakan  bahwa Al-Qur’an dengan rasm Imla’i  dapat dibenarkan, tetapi khusus bagi orang awam. Bagi para ulama atau yang memahami rasm Utsmani  tetap wajib mempertahankan keaslian rasm Utsmani.

Pendapat diatas diperkuat oleh  Al-Zarqani  dengan mengatakan bahwa rasm Imla’i diperlukan untuk menghindarkan ummat dari kesalahan membaca Al-Qur’an, sedangkan rasm Utsmani di perlukan untuk memelihara keaslian mushaf Al-Qur’an. Tampaknya, pendapat ini lebih moderat dan lebih sesuai dengan kondisi ummat, disatu pihak mereka ingin melestarikan rasm Utsmani, sementara dipihak lain mereka menghendaki dilakukannya penulisan Al-Qur’an dengan rasm Imla’i untuk memberikan kemudahan bagi kaum muslimin yang kemungkinan mendapat kesulitan membaca  Al-Qur’an dengan rasm Utsmani.

              
Namun demikian, kesepakatan para penulis Al-Qur’an dengan rasm Utsmani harus diindahkan dalam pengertian menjadikannya sebagai rujukan yang keberadaannya tidak boleh hilang dari masyarakat Islam. Sementara jumlah ummat Islam dewasa ini cukup besar yang tidak menguasai rasm Utsmani. Bahkan, tidak sedikit jumlah ummat Islam untuk mampu membaca aksara Arab. Mereka membutuhkan tulisan lain untuk membantu mereka agar dapat membaca ayat-ayat Al-Qur’an, seperti tulisan latin. Namun demikian Rasm Utsmani harus dipelihara sebagai  standard rujukan ketika dibutuhkan.

Demikian juga tulisan ayat-ayat Al-Qur’an dalam karya ilmiah, rasm Utsmani mutlak diharuskan karena statusnya sudah masuk dalam kategori rujukan dan penulisannya tidak mempunyai alasan untuk mengabaikannya. Dari sini kita dapat memahami bahwa menjaga keotentikan Al-Qur’an tetap merujuk kepada penulisan mushaf Utsmani. Akan tetapi segi pemahaman membaca Al-Qur’an bisa mengunakan penulisan yang lain berdasarkan tulisan yang dalam proses penulisan Al-Qur’an mulai dari Zaman Rasulullah, zaman khalifah Abu Bakar sampai khalifah Utsman Bin Affan yang penulisnya tidak pernah lepas dari Zaid Bin Tsabit yang merupakan sekretaris Rasulullah SAW. Secara historis ini membuktikan bahwa Allah SWT tetap menjaga dan memelihara keotentikan Al-Qur’an.

2.       Rasm ‘Arudi 
Rasm ‘Arudi  ialah cara menuliskan kalimat-kalimat arab disesuaikan dengan wazan sya’ir-sya’ir arab. Hal itu dilakukan untuk mengetahui “bahr” (nama macam sya’ir).  Dari sya’ir tersebut contohnya seperti :
وليل كموج البحر ار خي سدو له   sepotong sya’ir Imri’il qais tersebut jika ditulis akan berbentuk:
وليلن كموج البح ر ار خي سدو لهو  sesuai dengan فعو لن مفا عيلن فعولن مفا عيلن sebagai timbangan  sya’ir yang mempunyai “ bahar tawil.”

3.      Rasm Utsmani
Rasmul Utsmani adalah pola penulisan Al-Qur’an pada masa Utsman dan disetujui oleh Utsman.  

Rasm utsmani menjadi salah satu cabang ilmu pengetahuan yang bernama Ilmu Rasm Utsmani. Ilmu ini didefinisikan sebagai ilmu untuk mengetahui segi-segi perbedaan antara Rasm utsmani dan untuk mengetahui segi perbedaan antara rasm utsmani dan kaidah-kaidah rasm istilahi (rasm yang biasa selalu memperhatikan kecocokan antara tulisan dan ucapan) sebagai berikut contoh antara rasm utsmani dengan rasm istilahi.

Dalam rasm utsmani lafaz (لايستوون) ditulis (لايستون)
      Lafaz (الصلاة) ditulis (الصلوة)
      Lafaz (الزكاة) ditulis (الزكوة)
      Lafaz (الحياة) ditulis (الحيوة)

No comments: