Saturday, 16 May 2015

PANCARAN HIDAYAH DI SUDUT KOTA JOGJA


Bismillah...

"Salam ukhuwah dan cinta umat dari sudut kota Jogja Istimewa...

Alhamdulillah... Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah keatas junjungan Nabi SAW dan Sahabah Ra atas pengorbanan mereka sehingga kita mendapat nikmat iman dan Islam...

Alkisah..... Bermula sekitar jam 11 pagi hari 15/6, setelah menyempurnakan beberapa amalan sunnah pada hari Jum’at, hamba yang dhoif ini meluncur ke masjid Al Ilham, bernaksud shalat Jum’at disana yang saat itu juga hamba yang faqir ilmu sebagai khatib. (bersamaan dengan itu pula, kutinggalkan istri dan kedua amanah Allah (anak) yang sedang demam.

Al Ilham. Sebuah masjid tingkat 3 yang berdiri kokoh di tepi jalan Kronggahan, Gamping Yogyakata. Tidak jauh dari PPPA Daarul Quran yang diasuh oleh Al Ustadz Yusuf Mansyur. Dirumah Allah ini sudah hidup beberapa amal dakwah (maqomi) diantaranya musyawaroh, ta’lim, silaturahmi harian. Selain itu juga ada beberapa pengajian rutin yang sudah berlangsung lama.



Khutbah siang itu tidak panjang. Temanya berputar mengenai kepentingan menghidupkan amal masjid, dan beberapa kisah dan kiat yang dicontohkan Nabi SAW. Ending-nya ketika amal masjid hidup, semua masalah umat akan selesai. Di zaman Nabi SAW, orang datang  ke masjid Nabawi dengan membawa berbagai masalah, keluar dari masjid selesai masalah. Itu saja.

Bakda shalat jum’at hamba yang dhoif  ini sempat ngopi (ngobrol perkara iman) dan ngobrol mengenai beberapa rombongan dakwah yang sedang bergerak di Jogja dengan Pak dr. Daim. Beliau ahbab dan salah satu pengurus masjid disitu.

Pas lagi asyik-asyiknya ngobrol… datanglah seorang yang sedang khidmad masjid (mengatur parkir dsb) memotong pembicaraan kami, diiringi pemuda paruh baya menghampiri kami. Setelah uluk salam dan bersalaman, petugas khidmad duduk disebelah kami.

“Ini pak ustadz, ada orang mau masuk Islam”.

Subhanallah.

Singkat cerita….

Mas Andri nama panggilannya. Pria paruh baya, sudah beristri dan punya 1 anak. Istri, anak dan beberapa saudaranya katolik. Tapi yang ajib, ayahnya muslim. Tinggal diwilayah Kronggahan juga, tidak begitu jauh dari masjid.

Setelah ikhtilat mengenai akhwal keluarga dan kesehariannya, kami memberikan sedikit mudzakarah tentang adab mandi dan wudhu. Baru kemudian mempersilakan beliau untuk mandi dan wudhu dengan dipandu oleh petugas khidmad.

Setelah selesai mandi dan wudhu, beliau menghampiri kami lagi. kujabat tangannya dengan penuh kasih, kutuntun syahadat berkali-kali sampai beliau fasih… disaksikan sekitar 5 orang disamping kami.

Ucapannya yang terbata-bata… berlinang air mata… tangan bergetar memahami makna…

“Aku bersaksi bahwa tiada yang layak disembah kecuali Allah, dan Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya”.

Seketika itu pula mukanya berubah. Bersih.. ceria.. bercahaya….

Peristiwa itu menyebabkan kami suka cita…berlinang air mata… trenyuh tak terelakkan… Inilah hidayah Allah.

Setelah bersyahadat, kami sambung mudhakarohnya…. Menggembirakan beliau dengan janji-janji Allah bagi orang yang hatinya punya iman yang shahih kepada Allah (dosa yang lalu diampuni Allah dsb). Mengenai kewajiban sebagai seorang muslim (dakwah dan ibadah).

Raut wajahnya semakin bercahaya….. berwibawa…

Mas Andri bercerita kepada kami, beliau masuk Islam atas kemauan sendiri. Sebelumnya memang beliau sering membaca dan mempelajari buku-buku tentang Islam. Selain itu beliau juga pernah bermimpi melihat cahaya putih terang bertuliskan tulisan Arab. Persis tulisan kalimah syahadat. Subhanallah… la quwwata illa billah….

Dan entah kenapa, siang itu juga keinginan untuk masuk Islam semakin kuat sehingga kuasa Allah menggerakkan beliau langsung menuju masjid.

Kami memotivasi beliau dengan 'qoulan layyinan' agar istiqomah dalam iman dan Islam, dan mendorongnya agar sebisa mungkin bisa mengajak (dakwah), merangkul (mentasykil) anak istri dan keluarga besarnya agar masuk Islam dengan cara yang hikmah dan kasih sayang.

Setelah lama bermudzakaroh… hamba yang dhoif pamit, karena ada janji hendak nusroh (berkunjung) ke rombongan dari Bangladesh yang sedang safari dakwah di masjid Marangan, skitar 200m dari MBS Prambanan. Sekitar 40km dari mahalla.

Sebelum berpisah dengan Mas Andri, kupeluk dia dengan penuh kasih layaknya saudara muslim yang lain. Kurogoh saku gamisku, kudapati sebotol minyak wangi yang tinggal separuh dan kuhadiahkan kepadanya. Sementara dari pihak takmir menghadiahkan buku tuntunan sholat dan akan menyediakan perlengkapan sholat untunya.

Bersamaan dengan itu, hamba yang dhoif pun pamit dengan teman-teman takmir. Saat bersalaman mereka menyerahkan hadiah kepadaku sebuah amplop yang entah tak tau apa isinya. Seketika itu pula spontan langsung kuhadiahkan ke Mas Andri. (tertib dakwah Nabi SAW mengeluarkan semua isi saku bukan memenuhi isi saku).

Setelah itu, kupulang ke rumah menjelang maghrib dan kuceritakan kepada istriku semuanya. Suka cita. Turut gembira....

 Kujumpai amanah Allah (anak-anak) sudah sehat kembali…

Hanya Allah yang kuasa memberi hidayah…
Dan hanya Allah yang kuasa memberi kesembuhan…

Teruntuk saudara seiman semuanya….
Kuikat kisah ini dalam sebuah tulisan. bukan hendak riya'.... (a'udzubillah)
Semata-mata sebagai pengingat dan memotivasi diri dalam menapaki jalan Ilahi Rabbi.
Selebihnya, semoga bermanfaat bagi perbaikan umat.

Teruslah berdakwah.... istiqomahlah

Semoga Allah menyematkan iman di dada beliau dan kita semua hingga akhir hayat....
Kita tak tau... dititik mana Allah hendak turunkan hidayah. Siapa? Dimana? Kapan? (yang akan diberi hidayah).

Akhirnya....
Diujung pena ini
mari bermunajat....
kepada Yang Maha Menyempurnakan Hajat (Allah)...

Ya Allah...
Pilihlah kami dan umat ini menjadi asbab turunnya hidayah diserata alam
dan istiqomahkanlah kami (dalam dakwah) hingga berpindah alam.
Aamiiin.

Jogja Istimewa 16/5/2015

Al Fakir

Ma'ruf Ihsan Al Jugjawy

No comments: