Beliau adalah sepupu sekaligus sahabat Rasulullah yang mirip
dengan Rasulullah baik ujud tubuh, tingkah laku atau budi pekertinya. Beliau
diberi gelar “Bapak Si Miskin”, “Si Bersayap Dua di Surga” atau Si Burung
Surga”. Salah seorang pelopor ternama Islam, beliau dan istrinya (Amma binti
Umais) termasuk dalam golongan orang-orang yang pertama masuk Islam.
Sewaktu Rasulullah memilih sahabat-sahabatnya yang akan hijrah ke Habsyi (Ethiopia), maka tanpa berfikir panjang Ja’far bersama istrinya tampil mengemukakan diri hingga tinggal disana selama beberapa tahun. Disana mereka dikaruniai Allah tiga orang anak yaitu: Muhammad, Abdullah, dan ‘Auf.
Selama di Ethiopia, maka Ja’far bin Abi Thaliblah yang tampil
menjadi juru bicara yang lancar dan sopan. Allah mengaruniakan kepadanya hati
yang tenang, akal fikiran yang cerdas, jiwa yang mampu membaca situasi dan
kondisi serta lidah yang fasih.
Hal itu terbukti ketika berdialog dengan Negus, Raja Ethiopia
pada saat kaum muslimin hijrah kesana. Kaum Quraisy tidak senang dan merasa
cemas ketika kaum muslimin hijrah ke Ethiopia, khawatir kalau-kalau kaum
muslimin di tempatnya yang baru menjadi bertambah kuat dan jumlahnya semakin
banyak. Karena itulah para pemimin Quraisy mengirimkan dua utusannya yaitu
Abdullah bin Rabi’ah dan Amar bin Ash (keduanya waktu itu belum masuk Islam)
untuk menyampaikan harapan Quraisy agar Negus mengusir kaum muslimin yang
hijrah dan menyerahkannya kepada mereka.
Negus merupakan seorang raja yang imannya kuat. Dalam lubuk
hatinya, ia menganut agama Nasrani secara murni dan padu, jauh dari
penyelewengan dan lepas dari fanatik buta dan menutup diri. Nama baiknya dan
ksiah perjalanan hidupnya yang adil tersebar kemana-mana. Karena itulah
Rasulullah memilih negerinya menjadi tempat hijrah bagi sahabat-sahabatnya dan
karena itu pula kaum kafir Quraisy khawatir kalau tipu muslihatnya menjadi
gagal sehingga utusannya dibekali sejumlah hadiah yang berharga untuk
pembesar-pembesar dan pejabat gereja disana dengan tujuan agar para pendeta itu
berpihak kepada mereka. Kedua utusan itu terus-menerus membangkitkan dendam
kebencian di antara para pendeta terhadap kaum muslimin.
Pada saat Negus, dihadapkan dengan utusan Quraisy dan kaum
muhajirin Islam, utusan Quraisy kembali mengulangi tuduhan terhadap kaum
muslimin bahwa kaum muslimin itu adalah orang-orang bodoh dan tolol yang
meninggalkan agama nenek moyang mereka tetapi tidak pula hendak memasuki
agamanya Negus dan bahkan datang dengan agama baru yang mereka ada-adakan
sehingga utusan itu meminta mereka dikembalikan pada kaumnya. Negus pun
bertanya kepada kaum muslimin, agama apakah yang menyebabkan mereka
meninggalkan bangsanya tetapi juga tidak memandang perlu pula terhadap
agamanya(Nasrani).
Ja’far pun bangkit berdiri untuk menunaikan tugas yang telah
diamanahkan padanya oleh kawan-kawannya sesama Muhajirin yang mereka tetapkan
dalam rapat yang diadakan sebelumnya. Dengan pandangan ramah penuh kecintaan
kepada baginda raja yang telah baik menerima mereka, beliau berkata:
“Wahai paduka yang mulia! Dahulu ami memang orang-orang jahil
dan bodoh; kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan
pekerjaan-pekerjaan keji, memutuskan silaturahmi, menyakiti tetangga dan orang
yang berhampiran. Yang kuat waktu itu memakan yang lemah. Hingga datanglah
masanya Allah mengirimkan Rasul-Nya kepada kami dari kalangan kami. Kami kenal
asal-usulnyam kejujurannya, ketulusan dan kemuliaan jiwanya. Ia mengajak kami
untuk mengesakan Allah dan mengabdikan diri pada-Nya, dan agar membuang
jauh-jauh apa yang pernah kami sembah bersama bapak-bapak kami dulu, berupa
batu-batu dan berhala. Beliau menyuruh kami bicara benar, menunaikan amanah,
menghubungkan silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga dan menahan diri dari
menumpahkan darah yang dilarang Allah.
Dilarangnya kami berbuat keji dan zina, mengeluarkan ucapan
bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh berbuat jahat terhadp wanita yang
baik-baik. Lalu kami benarkan ia dan kami beriman kepadanya, dan kami ikuti
dengan taat apa yang disampaikannya dari Tuhannya. Lalu kami beribadah kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan tidak kami persekutukan sedikitpun juga, dan kami
haramkan apa yang dihalalkan-Nya untuk kami. Karenanya kaum kami memusuhi kami
dan menggoda kami dari agama kami, agar kami kembali menyembah berhala lagi,
dan kepada perbuatan-perbuatan jahat yang pernah kami lakukan dulu. Maka
sewaktu mereka memaksa dan menganiaya kami, dan menggecet hidup kami dari agama
kam, kami keluar hijrah ke negeri paduka, dengan harapan akan mendapatkan
perlindungan paduka dan terhindar dari perbuatan mereka.”
Ja’far mengucapkan kata-kata yang mempesona itu laksana cahaya
fakar sehingga membangkitkan perasaan dan keharuan pada jiwa Negus. Ketika
Negus menanyakan wahyu yang dibawa dari Rasulullah, Ja’far langsung membacakan
bagian dari surat Maryam. Mendengarnya, Negus langsung menangis, begitu pula
dengan para pendeta dan pembesar lainnya. Selanjutnya Negus mengatakan kepada
kaum Quraisy bahwa sesungguhnya yang dibaca tadi dan yang dibawa oleh Isa a.s.
sama memcancar dari satu pelita, karena itu utusan Quraisy dipersilahkan pergi
dan beliau tidak akan menyerahkan kaum muslimin kepada mereka.
Tetapi keesokan harinya kedua utusan itu kembali menghadap Raja
Negus hendak memojokkan kaum muslimin telah mengucapkan suatu ucapan keji yang
merendahkan kedudukan Isa sehingga hal itu cukup menggoncangkan Negus dan para
pengikutnya. Negus pun memanggil kaum muslimin kembali untuk menanyai bagaimana
sebenarnya pandangan Agama Islam tentang Isa al-Masih.
Ja’far pun bangkit sekali lagi dan berujar: ”Kami akan mengatakan tentang Isa a.s , sesuai dengan keterangan yang dibawa Nabi kami Muhammad saw, bawa:
Ja’far pun bangkit sekali lagi dan berujar: ”Kami akan mengatakan tentang Isa a.s , sesuai dengan keterangan yang dibawa Nabi kami Muhammad saw, bawa:
“Ia adalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya serta kalimah-Nya
yang ditiupkan-Nya kepada Maryam dan ruh daripada-Nya…”
Negus bertepuk tangan tanda setuju seraya mengumumkan bahwa
memang begitulah yang dikatakan al-Masih tentang dirinya. Akhirnya Negus
mempersilahkan kaum muslimin itu untuk tinggal bebas di negerinya dan akan
melindungi mereka serta mengusir para utusan Quraisy dengan mengembalikan
hadiah-hadiahnya.
Di kala Rasulullah bersama kaum muslimin sedang bersukacita
dengan kemenangan atas jatuhnya Khaibar, tiba-tiba muncullah Ja’far bin Abi
Thalib kembalu pulang dari Ethiopia bersama sisa muhajirin lainnya yang baru
kembali dari sana. Betapa sukacitanya Nabi karena kedatangan mereka, dipeluknya
Ja’far sambil berkata: “Aku tak tahu entah mana yang lebih
menggembirakanku, apakah dibebaskannya khaibar atau kembalinya Ja’far!”
Sekembalinya ke Madinah jiwa Ja’far bergelora dan dipenuhi
keharuan karena mendengar berita dan cerita tentang sahabat-sahabatnya kaum
muslimin, baik yang gugur sebagai syuhada, maupun yang masih hidup selaku
pahlawan-pahlawan yang berjasa dari perang Badar, perang Uhud, Khandak dan yang
lainnya. Beliau pun merindukan kesempatan dan peluang untuk berjuang pula
sebagai syahid di jalan Allah.
Ketika perang Muktah, Ja’far memandang peperangan ini sebagai
peluang yang sangat baik dan satu-satunya kesempatan seumur hidup untuk merebut
salah satu di antara dua kemungkinan; membuktikan kejayaan besar bagi agama
Allah dalam hidupnya atau ia akan beruntung menemui syahid di jalan Allah.
Ja’far termasuk di antara tiga serangkai yang diangkat Rasulullah menjadi
panglima pasukan dan pemimpinnya di perang Muktah ini. Tentara Romawi yang
berjumlah 200.000 orang beserta persenjataan yang tak tertandingi tidak membuat
Ja’far menjadi gentar, tetapi justru membangkitkan semangat juang yang tinggi
pada dirinya, karena sadar akan kemuliaan seorang mu’min yang sejati, dan
sebagai pahlawan yang ulung haruslah kemampuan juangnya berlipat ganda dari
musuh.
Sewaktu panji-panji pasukan hampir terlepas dari tangan Zaid bin
Haritsah, dengan cepatnya disambar oleh Ja’far dan ia terus menyerbu ke
tengah-tengah barisan musuh dan mengayunkan pedangnya ke sehala jurusan
mengenai musuhnya. Tentara Romawi terus mengepungnya dan mereka menebas tangan
kanannya hingga putus, tetapi sebelum panji jatuh ke tanah, cepat disambarnya
dengan tangan kirinya. Lalu mereka ebas pula tangan kirinya, tetapi Ja’far
mengepit panji itu dengan kedua pangkal lengannya ke dada. Ia bertekad akan
memikul tanggung jawab untuk tidak membiarkan panji Rasulullah jatuh menyentuh
tanah selagi ia masih hidup. Di saat jasadnya telah kaku tetapi panji masih
tertancap di antara kedua lengan dan dadanya, datanglah Abdullah bin Rawahah
membelah barisan musuh dan merenggut panji itu.
Demikianlah Ja’far mempertaruhkan nyawa dalam menempuh suatu kematian agung yang tiada taranya. Begitulah caranya ia menghadap Allah, berselimut darah kepahlawanannya. Menurut Abdullah bin Umar, ketika mendapati jasadnya, didapati luka-luka bekas tusukan pedang dan lemparan tombak lebih dari 90 tempat di tubuh Ja’far. Dan Rasulullah bersabda mengenai dirinya:
“Aku telah melihatnya di surga…., kedua bahunya yang penuh bekas-bekas cucuran darah penuh dihiasi dengan tanda-tanda kehormatan…!”
Demikianlah Ja’far mempertaruhkan nyawa dalam menempuh suatu kematian agung yang tiada taranya. Begitulah caranya ia menghadap Allah, berselimut darah kepahlawanannya. Menurut Abdullah bin Umar, ketika mendapati jasadnya, didapati luka-luka bekas tusukan pedang dan lemparan tombak lebih dari 90 tempat di tubuh Ja’far. Dan Rasulullah bersabda mengenai dirinya:
“Aku telah melihatnya di surga…., kedua bahunya yang penuh bekas-bekas cucuran darah penuh dihiasi dengan tanda-tanda kehormatan…!”
(Diambil Dari Buku Karakteristik Perihidupan 60 Sahabat
Rasulullah)

No comments:
Post a Comment